PTK:MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA MELALUI MEDIA VISUAL PADA MATERI TENTANG TINDAKAN EKONOMI DAN MOTIF EKONOMI MATA PELAJARAN IPS KELAS VII.2 SMP NEGERI 1 BAYAN KABUPATEN LOMBOK UTARA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan yang diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. IPS memuat tentang ilmu ilmu sosial yang pada hakekatnya menganjarkan anak didik agar memiliki rasa sosial tinggi dalam kehidupannya. Melalui pembelajaran IPS diharapkan siswa dapat mengetahui keragaman bangsanya, keragaman budayanya, sejarah bangsanya serta keadaan alamnya. Pembelajaran IPS dirancang untuk membimbing dan merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang terus menerus. Hal ini merupakan tantangan yang sangat berat mengingat masyarakat secara global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu diperlukan suatu pengetahuan yang dapat menunjang pengembangan kreatifitas guru dalam mengajar. Pengembangan kreatifitas dan kemampuan guru ditujukan untuk menghindari permasalahan yang muncul dari diri siswa selama mengikuti pembelajaran IPS, karena melalui pembelajaran IPS ini diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan dan sikap yang rasional tentang gejala- gejala sosial serta perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia, baik di masa lampau dan masa kini maupun masa yang akan datang.
Dalam pembelajaran IPS guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh antusias bagi siswa. Dalam kegiatan pembelajaran IPS yang menyenangkan guru harus didukung oleh alat belajar yang menarik minat belajar sehingga siswa tidak merasa bosan selama mengikuti pembelajaran, sebagaimana dikemukakan oleh Samlawi Fakih (1992) bahwa mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran yang membosankan, oleh karena itu diperlukan media yang dapat menarik minat siswa untuk belajar.
Menyinggung tentang media pembelajaran kita harus menggunakan media pembelajaran tersebut dengan benar dan tepat untuk menunjang proses belajar mengajar yang dilaksanakan, dalam hal ini media yang tepat dapat merangsang siswa untuk lebih mengerti dan memahami materi yang diajarkan. Menurut Gagne (dalam Amidun Rasyad dan Darhim, 1996 – 1997:97) “media adalah jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar“. Belajar bukan saja melulu penerapan teori semata dan pembelajaran di ruang kelas, tetapi lebih dari itu belajar merupakan cara yang kompleks untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa. Oleh sebab itu, ketepatan memilih media pembelajaran merupakan faktor pendukung dalam sukses tidaknya guru mendidik murid menjadi generasi yang dapat diandalkan dan dibanggakan kelak. Oleh karena itu guru harus menggunakan media pembelajaran yang tidak saja membuat porses pembelajaran menjadi menarik, tetapi juga memberikan ruang bagi murid untuk berkreasi dan terlibat secara aktif sepanjang proses pembelajaran. Sehingga aspek kognitif ,afektif dan psikomotorik murid pun dapat berkembang maksimal secara bersamaan tanpa mengalami pendistorsian salah satunya. Kenyataan apa yang menjadi harapan dan tujuan di atas belum sepenuhnya terpenuhi. Namun usaha ke arah itu senantiasa dilakukan oleh seluruh elemen pendidikan Hal ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran akan menarik minat belajar siswa terutama pada mata pelajaran IPS.
Dengan media yang menarik materi pelajaran akan mudah diserap oleh siswa, karena dengan menggunakan media dapat mempermudah pemahaman belajar anak dalam pencapaian tujuan pengajaran. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Bayan, pembelajaran IPS belum sesuai diharapkan. Hal ini disebabkan oleh: 1). Kurangnya keterampilan guru dalam memilih media yang tepat dalam pembelajaran, 2). Kurangnya keterampilan guru untuk memanfaatkan media.
3). Minat belajar siswa kurang atau belum sesuai dengan apa yang diharapkan.
Untuk itu diperlukan alat atau media yang dapat menarik minat siswa.
Materi tentang tindakan ekonomi dan motif ekonomi adalah salah satu materi pada pelajaran IPS kelas VII semester 1, tetapi ternyata guru dalam melaksanakan pembelajaran kebanyakan masih bersifat konvensional, artinya guru masih mendominasi jalannya pembelajaran dan belum memanfaatkan media pembelajaran secara maksimal sehingga pembelajaran yang dilakukan cenderung kurang menarik siswa. Selain itu guru belum sepenuhnya memanfaatkan alat peraga dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Kebanyakan masih menggunakan alat peraga lembar kerja yang dibeli dari penerbit yang belum sesuai dengan kebutuhan siswa.. Untuk mengatasi hal itu perlu diadakan uji coba menggunakan media pembelajaran yang murah dan sederhana yang mudah dipahami siswa yaitu melalui media visual
Media pembelajaran yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah media yang digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran IPS terutama pada materi tentang tindakan ekonomi dan motif ekonomi. Adapun media tersebut adalah media visual. Harapan selanjutnya adalah ingin memperbaiki proses pembelajaran dengan memanfaatkan penggunaan alat peraga dan media visual yang murah meriah, mudah didapat . Diharapkan dengan menggunakan media visual lebih mewarnai proses pembelajaran agar pembelajaran lebih bermakna, materi mudah dipamai siswa, bergairah serta bernuansa PAKEM (Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Disisi lain siswa pun akhirnya akan lebih akrab dan lebih berminat belajar IPS. Dan prestasi belajar siswa meningkat. Berdasarkan uraian di atas maka penulis melaksanakan penelitian tindakan kelas mengenai ”Meningkatkan Minat Belajar Siswa Melalui Media Visual pada Materi Tindakan Ekonomi dan Motif Ekonomi Mata Pelajaran IPS Kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bayan Kabupaten Lombok Utara”.

B. Masalah Penelitian
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka permasalahan dapat diidentifikasi sebagai berikut:
a) Kurangnya keterampilan guru dalam memilih media yang tepat dalam pembelajaran
b) Guru belum memanfaatkan ataupun menggunakan media visual
c) Minat belajar siswa kurang atau belum sesuai dengan apa yang diharapkan.
2. PerumusanMasalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah penggunaan media visual dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas VII.2 khususnya materi Tindakan Ekonomi dan Motif Ekonomi pada mata pelajaran IPS SMP Negeri 1 Bayan”.
C. Pemecahan Masalah
Dalam upaya memecahkan permasalahan tentang rendahnya minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS, proses pembelajaran akan dilakukan dengan menggunakan media visual.
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru ( peneliti ) melalui penggunaan media visual sehingga proses pembelajaran akan lebih baik.
2. Untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran.IPS dengan menggunakan media visual
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Untuk Sekolah:
Sebagai bahan masukan agar dapat mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi dalam memperbaiki dan meningkatkan kreatifitas pembelajaran IPS melalui media gambar.
2. Untuk Guru :
Sebagai bahan masukan untuk mendapatkan pengetahuan dan teori baru tentang meningkatkan minat belajar siswa melalui media visual mata pelajaran IPS kelas VIIA SMP Negeri 1 Bayan, khususnya materi tindakan ekonomi dan motif ekonomi.
3. Untuk Siswa:
Dapat meningkatkan minat siswa dalam proses pembelajaran IPS pada siswa kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bayan baik pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, serta keaktifan dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran.
4. Bagi peneliti:
Penelitian akan menambah pengalaman dan wawasan dalam menentukan cara yang dilakukan dalam kegiatan belajar IPS agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Minat
Minat adalah sesuatu yang sangat penting bagi seseorang untuk melakukan suatu aktivitas. Dengan minat orang akan berusaha mencapai tujuannya. Oleh karena itu minat dikatakan sebagai salah satu aspek psikis manusia yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan.
Ada dua aspek yang dikandung oleh minat antara lain aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif mengandung pengertian bahwa minat selalu didahului oleh pengetahuan, pengetahuan, pemahaman dan konsep yang diperoleh dan dikembangkan dan pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Aspek afektif menunjukkan pada derajat emosional yang dinyatakan dalam bentuk proses menilai untuk menentukan kegiatan yang disenangi. Jadi, suatu aktivitas bila disertai dengan minat individu yang kuat, maka ia akan mencurahkan perhatiannya dengan baik terhadap aktivitas tersebut. Aspek minat manusia dalam mengikuti pembelajaran IPS sangat kuat, maka akan merupakan dasar pula untuk menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, yang dapat memenuhi keinginan siswa untuk belajar disertai perhatian yang besar.
Sedangkan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bahwa minat untuk mempelajari IPS merupakan faktor intern yang mendorong dan mempengaruhi tingkah laku seseorang untuk merasa tertarik dan menunjukkan perhatian terhadap proses pembelajaran IPS.

B. Belajar
Sardiman (2004:2) mengatakan belajar adalah usaha mengubah tingkah laku. Arthur J. Gates dalam Fudyartanto (2002:150) menjelaskan bahawa belajar adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan, selanjutnya Hamalik (1994:36) belajar adalah modifikasi atau mempengaruhi kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini belajar adalah merupakan suatu proses kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan saja mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami.Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perbaikan kelakuan.
C. Minat Belajar
Minat belajar siswa adalah model bagi siswa untuk melakukan aktivitas belajar dalam usaha mencapai perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang dimaksudkan adalah dari perilaku tidak tahu menjadi tahu dan dari perilaku tidak mengetahui menjadi perilaku mengetahui.
Minat pada umumnya sudah terdapat dalam diri seseorang. Akan tetapi biasanya minat juga dapat dipengaruhi oleh sesuatu yang berasal dari luar atau yang sering disebut motivasi atau dorongan. Jika minat yang terdapat dalam diri seseorang sudah cukup kuat, maka dorongan yang berasal dari luar relatif kurang diperlukan. Tetapi sebaliknya, jika seseorang kurang memiliki minat, maka diperlukan dorongan dari luar atau motivasi ekstrinsik yang relatif kuat.

D. Media
Media secara khusus diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima. Dikaitkan dengan pembelajaran, media dimaksud sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Media merupakan wahana penyuluh informasi belajar atau penyalur pesan berupa materi ajar oleh guru kepada siswa menjadi lebih dengan pembelajaran yang dilakukan. Media sengaja dilakukan dengan leluasa, akalanya kita harus membuat sendiri.
Menurut Rahadi Aristi ( 2004:7) “ Media umumnya adalah segala sesuatu yuang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat popular dalam bidang komunikasi, proses belajar mengajara pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media dalam pembelajaran disebut sebagai media pembelajaran.
E. Media Visual /Gambar
Media gambar termasuk ke dalam media visual. Sama dengan media lain, yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dan penerima sumber ke penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Supaya proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien, simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar. Secara khusus gambar berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas penyajian ide, menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.
Media visual/ gambar berbentuk dua dimensi karena hanya memiliki ukuran panjang dan lebar. Yang termasuk media ganbar adalah gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, kartun, komik, poster, peta dan lain-lain. Media gambar telah sesuai dengan kemajuan teknologi seperti gambar fotografi. Gambar fotografi bisa diperoleh dari berbagai sumber.gambar yang diperoleh dari berbagai sumber dapat dipergunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar pada tiap jenjang pendidikan dan berbagai displin ilmu (Sudjana 2000: 78).

1. Kelebihan Media visual/Gambar
a) Sifatnya konkret, gambar lebih realitis menunjukkan masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
b) Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau tidak kita bisa lihat seperti apa adanya. Gambar amat berguna dalam hal ini.
c) Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.
d) Gambar dapat mamperjelas suatu masalah.
e) Siswa mudah memahaminya.
f) Bisa menampilkan gambar, grafik, atau diagram
g) Bisa dipergunakan di dalam kelas, di rumah maupun dalam perjalanan dalam kendaraan.
h) Dapat dipergunakan tidak hanya untuk satu orang.
i) Dapat dipergunakan untuk memberikan umpan balik.
2. Kelemahan Media visual/Gambar
a) Gambar hanya menekankan persepsi indera mata.
b) Gambar benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran.
c) Ukuranya sangat terbatas untuk kelompok besar.
d) (Gambar suilit di cari karena sejarah mempelajari masa lalu, dan kejadian masa lalu sulit untuk diabadikan.
e) Tidak semua kejadian masa lalu dapat dibuat gambarnya
3. Pengertian Media Pembelajaran visual/Gambar
Media grafis termasuk kedalam media visual sama dengan media lain, media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dan penerima sumber kepenerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam simbol-simbol komunikasi visual. Supaya proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien, simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar. Secara khusus grafis berfungsi pula untuk menarik perhatian, mmperjelas sajian ide, menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.
Pembuatan media grafis sederhana dan mudah jika ditinjau dari segi biaya juga relatif murah. Banyak sekali jenis media gambar. Media gambar merupakan bahasa yang umum yang dapat dimenggerti dan dipahami dimana-mana.
Media pembelajaran gambar mempunyai beberapa kelebihan (Sadiman,2003: 29-31) yaitu, sifatnya konkrit, gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita, dapat memperjelas suatu masalah, gambar juga dapat digunakan tanpa memerlukan alat khusus.
Namun selain itu gambar mempunyai beberapa kelemahan yaitu hanya menekankan persepsi indera mata, gambar benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran, ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar. Ada beberapa syarat harus dipenuhi supaya gambar itu baik sebagai media pendidikan setidaknya gambar itu akan cocok dengan tujuan pendidikan. Gambar tersebut harus otentik, sederhana dan ukuran relative serta gambar sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan, gambar hendaknya harus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai (Sadiman, 2003: 29-31).
Dalam upaya untuk pembelajaran atau membelajarkan siswa, peranan dan fungsi media pembelajaran ialah sebagai media komunikasi yang dipakai dalam kegiatan belajar mengajar. Proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses skomunikasi yaitu proses penyampain pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan.
Sumber pesan, saluran atau media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan disampaikan adalah isi atau ajaran didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya bisa guru, siswa orang lain atau penulis buku dan produser media, salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya yaitu siswa atau juga guru.
Di dalam pembelajaran sebagai proses komunikasi terdapat kendala-kendala atau gangguan yang mempengaruhinya yang disebut noise. Gangguan-gangguan ini dapat berupa hambatan psikologis seperti: kurangnya minat, rendahnya intelegensi, kualitas seperti: kelelahan, keterbatasan daya indera dan hambatan kultural seperti: kebiasaan serta hambatan yang berasal dari lingkungan. Perbedaan gaya mengajar , minat, intelegensi, keterbatasn daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain dapat dibantu dengan pemanfaatan media pendidikan.
Media sebagai salah satu sumber belajar yang dapat membantu guru dan siswa dalam mengatasi hambata-hambatan yang ada. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa media pembelajaran adalah segala jenis sarana yang dapat di indera yang digunakan dalam proses belajar-mengajar untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran (Sadiman dkk, 2003: 12-13).
Dengan demikian media pembelajaran merupakan bagian integral dari proses belajar-mengajar dan bertumpu pada tujuan, materi, pendekatan, metode dan evaluasi pembelajaran ada dua unsur yang terkandung dalam media pembelajaran yaitu: (1) pesan atau bahan pembelajaran yang akan disampaikan, dengan istilah lain yang disebut perangkat lunak (sofware) dan (2) perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat belajar dan alat bantu belajar.
Dengan penggunaan media guru dan siswa diharapkan dapat berkomunikasi lebih baik, mantap dan kelas menjadi hidup. Penggunaan media secara kreatif dapat memungkinkan siswa belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya dengan baik dan meningkatkan performan siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Macam-macam media pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar dapat dikelompokan sebagai berikut:
1) Bahan publikasi: koran, majalah, buku.
2) Bahan bergambar: gambar, bagan, peta, poster, foto, lukisan, grafik, dan diagram.
3) Bahan pameran: buletin board, papan flanel, papan magnet, papan demonstrasi.
4) Bahan proyeksi: film-film strip, slide trnsparan, OHP.
5) Bahan rekaman audio: tape kaset, VCD.
6) Bahan produksi: kamera, tape recorder.
7) Bahan siaran: pogaram radio, program televisi.
8) Bahan pandan dengar (audio visual) : TV, film bersuara, slaide bersuara.
9) Bahan medel atau benda tiruan, selain masih ada lagi media yang kita kenal antara lain: pertunjukan wayang kulit dan wayang boneka.
4. Pemanfaatan Media visual/Gambar Dalam Pembelajaran IPS
Pemanfaatan media gambar sejarah diperlukan strategi yang tepat, hal ini dimaksudkan agar pelajaran tidak terjebak pada sifat monoton dan siswa tidak hanya menonton. Pembelajaran sejarah dengan diawali media gambar akan membawa suasana belajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan, kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan atau menuliskan sejarah yang disajikan dalam gambar.

F. Prosedur Penggunaan Media Pembelajaran
Telah diuraikan sebelumnya bahwa pembelajaran seharusnya dipilih secara sistematis, agar dapat digunakan secara efektif dan efisien.
Ada tiga hal pokok dalam prosedur penggunaan media yang perlu diketahui yaitu sebagai berikut :
1. Persiapan
Langkah ini dilakukan sebelum menggunakan media. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penggunaan media dapat dipersiapkan dengan baik, yaitu buku pelajaran, buku petunjuk atau bahan penunjang lainya. Kemudian diikuti petunjuk didalamnya, siapkan pelajaran yang diperlukan untuk menggunakan media yang dimaksud, tetapkan apakah media tersebut digunakan secara individual atau kelompok, yakni bahwa semua peserta dapat melihat, mendengar pesan- pesan pengajaran yang baik.
2. Pelaksanaan
Satu hal yang perlu diperhatikan selama menggunakan media pengajaran yaitu, hindari kejadian-kejadian yang dapat mengganggu ketenangan, perhatian dan konsentrasi peserta.
3. Tindak lanjut
Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman peserta didik terhadap pokok- pokok materi atau pesan pengajaran yang hendak disampaikan melalui media tersebut, selanjutnya pada beberapa media dilengkapi dengan evaluasi maka langkah ini dimaksud pula untuk melihat tercapai atau tidaknya tujuan yang ditetapkan, karena tindak lanjut ini ditandai dengan kegiatan diskusi, tes, percobaan, observasi, latihan, remediasi dan pengayaan. Dengan media, kesulitan tersebut bisa diatasi dengan cara: Memberikan perangsang yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.
Selain itu, pemanfaatan media pengajaran bisa meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan meningkatkan gairah siswa dalam kegiatan pembelajaran. Mengapa media mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan gairah siswa dalam kegiatan pembelajaran? Nana (2007), mengemukakan media dapat meningkatkan gairah belajar siswa
a) Kegiatan pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan minat siswa
b) Bahan pembelajaran akan lebih jelas dan bermakna sehingga lebih mudah dipahami siswa dan memungkinkan siswa untuk menguasai tujuan pembelajaran yang lebih baik
c) Metode mengajar akan lebih bervariasi, bukan hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata- kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kecakepan dalam mengajar.
d) Siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi juga aktifitas lainnya seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
e) Taraf berfikir siswa akan meningkat sesuai dengan tahap perkembangan kognitif, yang dimulai dari berfikir kongkret menuju ke abstrak, di mulai dari taraf berfikir sederhana menuju berfikir kompleks. Misalnya penggunaan peta dan globe dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada dasarnya merupakan penyederhaan dan pengkongkretan dari konsep geografi, sehingga bumi ini dapat dipelajari dengan wujud yang jelas.
Selanjutnya Nan mengemukakan bahwa beberapa hasil penelitian juga menyimpulkan penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran yang tidak menggunakan media pembelajaran. Hasil penelitian tersebut menyarankan pentingnya penggunaan media pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

G. Karakteristik Media Pembelajaran
Media pembelajaran memiliki jenis- jenis dan beraneka macamnya. Untuk mengefektifkan pemanfaatan media, perlu diusahakan klasifikasi dan pengelompokan berdasarkan maksud dan tujuannya.
Karakteristik juga dapat dilihat dari kemampuan membangkitkan rangsangan indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan maupun penciuman. Karakteristik media, menurut Kemp (1975) merupakan dasar pemilihan media sesuai dengan situasi belajar tertentu. Karakteristik atau ciri- ciri media pembelajaran merupakan salah satu dasar dalam menentukan strategi pembelajaran.
H. Jenis- Jenis Media Pembelajaran
Pengelompokan berbagai jenis media dilihat dari segi perkembangan teknologi, menurut Seels & Glasgow (1990) dibagi ke dalam dua kategori, yaitu media tradisional dan media teknologi mutakhir.
1. Media Tradisional
a) Visual diam yang diprayeksikan : proyeksi opaque (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides dan film strips
b) Visual yang tak diproyeksikan : gambar, poster, foto, chart, grafik, diagram dan pameran, papan info, papan tempel Audio: rekaman piringan, pita kaset
c) Penyajian multimedia : slide plus suara, multi image
d) Visual dinamis yang diproyeksikan : film, televisi, video
e) Cetak: buku teks, modul, teks terprogram, workbook, majalah ilmiah dan handout
f) Permainan: teka-teki, simulasi, permainan papan
g) Realita: model, specimen (contoh), manipulatif (peta, boneka)
2. Media teknologi Mutakhir
a) Media berbasis telekomunikasi: telekonferen, kuliah jarak jauh
b) Media berbasis mikroprosesor: computer assisted instruction, permainan komputer, sistem tutor intelijen, interaktif, hypermedia dan compact (video) disc.

I. Kriteria- Pemilihan Media Pembelajaran
Pengembangan media harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan. Pemilihan media sebaiknya tidak lepas dari konteksnya bahwa media merupakan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan.
Menurut Dick dan Carey (1978) ada empat faktor yang perlu menjadi pertimbangan dalam memilih dan menentukan media pembelajaran, yaitu:
a) Ketersediaan sumber setempat, artinya bila media tidak terdapat pada sumber yang ada, harus dibeli atau dibuat sendiri.
b) Ketersediaan dana untuk membeli atau memproduksi sendiri, artinya apabila membeli atau memproduksi sendiri, apakah ada dana, tenaga dan fasilitasnya?.
c) Keluwesan dan kepraktisan serta ketahanan media, artinya media bisa digunakan dimanapun, dengan peralatan yang ada disekitarnya dan kapanpun serta mudah dijinjing dan dipindahkan.
d) Efektifitas biaya dalam jangkauan waktu.
Ada jenis media yang biaya produksinya mahal, namun pemanfaatannya stabil dalam jangka panjang. Misalnya film bingkai, transparan OHP, media ini lebih tahan lama dalam pemakainannya, bila dibanding brosur yang setiap kali sering merubah materi sehingga biaya pembuatannya lebih mahal.
Selain itu, pertimbangan dalam pemilihan media untuk kepentingan pembelajaran sebaiknya mempertimbangkan kriteria- kriteria sebagai berikut: (Nana, 2009:4)
1) Ketepatannya dengan tujuan pembelajaran.
2) Dukungan terhadap isi bahan pembelajaran
3) Kemudahan dalam memperoleh media
4) Keterampilan guru dalam menggunakannya
5) Tersedia waktu untuk menggunakannya
6) Sesuai dengan taraf berfikir siswa.
Dengan kriteria di atas, guru dapat dengan mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas- tugasnya sebagai pengajar. Pada dasarnya kehadiran media bermaksud untuk mempermudah tugas guru, bukan sebaliknya, karena apabila dipaksakan justru mempersulit tugas guru dalam menyampaikan pesan pada proses pembelajaran.
J. Pengembangan Media Pembelajaran
Dalam merencanakan pengembangan media pembelajaran, seorang guru perlu memperhatikan hal- hal sebagai berikut:
a) Analisis kebutuhan dan karaktersitik siswa adalah kesenjangan antara pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa yang kita inginkan dengan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki siswa sekarang
b) Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam proses pembelajaran akan memberi arah dan pedoman serta tindakan dalam melakukan aktifitas proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran harus terencana dengan jelas sehingga bisa menjadi panduan aktifitas dalam mencapainya. Untuk dapat mengembangkan materi pelajaran yang mendukung pencapaian tujuan maka tujuan yang telah dirumuskan harus di analisis lebih lanjut.
c) Materi pembelajaran yang akan disampaikan harus dikembangkan dari tujuan pembelajaran yang telah di analisis sesuai dengan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran perlu direncanakan alat pengukur keberhasilan yang telah direncanakan sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
d) Alat pengukur keberhasilan belajar siswa perlu dirancang secara seksama dengan validitas yang telah teruji dan meliputi kemampuan yang komprehensif.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Subyek Penelitian
Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bayan Kabupaten Lombok Utara kelas VIIA semester 1 tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 32 orang terdiri 12 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.
B. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu dari bulan Nopember 2012 sampai dengan pertengahan Januari 2013 waktu ini meliputi kegiatan persiapan sampai penyusunan laporan penelitian dengan jadwal sebagai berikut:
C. Prosedur Penelitian
Dalam pelaksanaannya penelitian ini dilakukan secara kolaboratif dengan guru mata pelajaran IPS. Adapun langkah- langkah yang dilakukan untuk tiap siklus pembelajaran dalam prosedur penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
Siklus I
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut:
a) Mendiskusikan dengan guru mata pelajaran IPS tentang permasalahan pembelajaran dan tindakan yang direncanakan, serta meminta kesediaan guru mata pelajaran IPS untuk menjadi mitra dalam pelaksanaan tindakan.
b) Menyusun perangkat pembelajaran berupa rencana pembelajaran yang disetting sebagai PTK, bahan pengajaran yang akan diberikan, menyiapkan media pembelajaran pendukung, bahan tugas untuk siswa, kisi- kisi soal, alat evaluasi serta menyusun alat evaluasi bersama guru mitra.
c) Menyusun lembar kerja sisiwa bersama guru.
d) Menyusun lembar observasi aktivitas siswa dan guru bersama guru mitra.
2. Tahap Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru mata pelajaran IPS. Adapun kegiatannya sebagai berikut:
Pertemuan pertama
Dalam pertemuan ini membahas materi tentang mengenal berbagai macam tindakan ekonomi dengan urutan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa “apakah kalian pernah bertindak untuk mengatasi masalah di sekolah” sebagai prasayarat untuk dapat mengikuti pembahasan materi mengenai tindakan ekonomi melalui media gambar,
b) Guru memberikan motivasi kepada siswa dengan menayangkan gambar lewat LCD mengenai tindakan ekonomi.
c) Guru menjelaskan rencana kegiatan dan tujuan pembelajaran.
d) Guru memberikan penjelasan mengenai cara menganalisis media gambar
e) Guru memberikan soal latihan berupa lembar kerja siswa yang dapat dikerjakan secara individu.
f) Guru berkeliling mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa yang kurang mengerti.
g) Setelah cukup diberi waktu 30 menit guru bersama siswa membahas soal latihan dengan cara menunjuk siswa untuk memaparkan di depan kelas, dengan bimbingan guru siswa lain mencocokkan hasil kerjanya.
h) Selesai membahas latihan- latihan soal, guru menanyakan pada siswa soal- soal manakah yang belum dikuasai ataupun yang sudah dikuasai oleh siswa.
i) Guru membimbing siswa untuk membuat rangkuman.
j) Guru memberikan PR kepada siswa untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan kedua
Kegiatan yang dilakukan dalam pertemuan ini adalah sebagai berikut:
a) Guru membahas PR dan menerangkan soal yang dianggap sulit oleh siswa
b) Guru memberikan soal test pada siklus I dengan waktu 50 menit.
c) Guru mengoreksi hasil kerja siswa dan mempersentasikan hasil tes siklus I

3. Tahap Pengamatan (observasi)
Mengingat dalam penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru, maka pada tahap pengamatan (observasi) aktivitas belajar siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dipantau oleh peneliti dan dibantu oleh salah seorang pengamat dengan menggunakan pedoman lembar observasi aktivitas siswa.
4. Tahap Refleksi
Pada tahap ini data- data yang diperoleh dari siklus I dikumpukan untuk dianalisis dan selanjutnya diadakan refleksi terhadap hasil analisis yang diperoleh, sehingga dapat diketahui ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar dan minat belajar siswa sebelum tindakan dan sesudah tindakan. Aktivitas dan minat belajar inilah yang nantinya digunakan sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan siklus berikutnya.
Siklus II
1. Tahap perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I baik yang berkaitan dengan sisiwa, guru ataupun perangkat, maka diadakan perencanaan ulang meliputi:
a) Pendekatan, strategi, metode dan media pembelajaran
b) Menciptakan suasana belajar yang lebih melibatkan keaktivan siswa
c) Menyusun struktur pembelajaran yang lebih efektif dan efisien
d) Pengelolaan kelas
Perencanaan yang lainnya sama sebagaimana pada perencanaan siklus pertama.
2. Tahap Tindakan
Pertemuan ketiga
Dalam pertemuan ini membahas materi mengenai motif ekonomi dengan urutan kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
a) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa “apa motivasi kalian belajar di sekolah “ sebagai prasarat untuk dapat mengikuti pembahasan materi mengenai motif ekonomi.
b) Guru melaksanakan rencana kegiatan dan tujuan pembelajaran.
c) Guru menjelaskan mengenai pengertian motif ekonomi, dan serta macam- macam motif ekonomi.
d) Guru memberikan soal latihan berupa lembar kerja siswa yang dapat dikerjakan secara individu dengan media gambar.
e) Guru berkeliling mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa yang kurang mengerti.
f) Setelah cukup diberi waktu 30 menit guru bersama siswa membahas soal latihan dengan cara menunjuk siswa untuk memaparkan di depan kelas, dengan bimbingan guru siswa lain mencocokkan hasil kerjanya.
g) Selesai membahas latihan- latihan soal, guru menanyakan pada siswa soal- soal manakah yang belum dikuasai ataupun yang sudah dikuasai oleh siswa.
h) Guru membimbing siswa untuk membuat rangkuman.
i) Guru memberikan PR kepada siswa untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan keempat
Dalam pertemuan ini membahas materi mengenai simbol- simbol pada peta dengan urutan kegiatan sebagai berikut:
a) Guru memberikan pertanyaan kepada siswa” apakah siswa masih mengingat motif produsen dalam memproduksi barang” sebagai prasarat untuk melanjutkan materi minggu lalu.
b) Guru memberikan motivasi kepada siswa dengan menunjukkan gambar orang memproduksi barang .
c) Guru menjelaskan rencana kegiatan dan tujuan pembelajaran
d) Menggunakan media gambar guru memberikan penjelasan mengenai macam-macam motif ekonomi, dll
e) Guru memberikan soal latihan siklus II berupa lembar kerja siswa yang dikerjakan secara individu melalui media gambar yang sudah disiapkan.
f) Guru berkeliling mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa yang kurang mengerti.
g) Setelah cukup diberi waktu 30 menit guru bersama siswa membahas soal latihan dengan cara menunjuk siswa untuk memaparkan di depan kelas, dengan bimbingan guru siswa lain mencocokkan hasil kerjanya.
h) Selesai membahas latihan- latihan soal, guru menanyakan pada siswa soal- soal manakah yang belum dikuasai ataupun yang sudah dikuasai oleh siswa.
i) Guru mengoreksi hasil kerja siswa dan mempersentasikan hasil tes siklus II
j) Guru membimbing siswa untuk membuat rangkuman.
k) Guru memberikan motivasi kepada siwa untuk mengulangi penjelasan mengenai materi mengenai macam-macam motif ekonomi dengan menggunakan media gambar.
3. Tahap Pengamatan (observasi)
Observasi dilakukan sebagaimana pada siklus I, yaitu pada tahap pengamatan (observasi), aktivitas siswa selama proses pembelajaran dipantau langsung oleh peneliti dan dibantu oleh salah seorang pengamat dengan menggunakan pedoman lembar observasi aktivitas siswa.
4. Tahap refleksi
Peneliti menganalisis semua tindakan kelas pada siklus II, sebagaimana yang dilakukan pada siklus I. selanjutnya peneliti melakukan refleksi. Apakah dengan media yang digunakan dalam penelitian ini akan meningkatkan minat belajar siswa.
D. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang didapat adalah data kuantitatif dan kualitatif. Yaitu sebagai berikut:
1. Data minat siswa diambil dengan cara pemberian angket kepada siswa setelah selesai tiap siklus
2. Data aktivitas belajar siswa dan pelaksanaan pembelajaran diperoleh dari hasil pengamatan kolaborator selama pelaksanaan tindakan tiap siklus dengan menggunakan instrument observasi kegiatan guru dan siswa pada saat KBM
3. Data hasil belajar diambil dengan cara memberikan tes kepada siswa setelah selesai tindakan.
.
E. Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif, yaitu membandingkan minat belajar sebelum tindakan dengan sesudah tindakan.
1. Data tentang minat belajar siswa
Data tentang minat belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual dianalisis dengan menggunakan persamaan:
%aspek minat belajar siswa = Jumlah siswa yang minat x 100%
Jumlah siswa keseluruhan
2. Data tentang aktivitas belajar siswa
Data tentang aktivitas belajar siswa dengan menggunakan media visual dapat dianalisis dengan menggunakan persamaan:
%aktivitas belajar siswa = Jumlah siswa beraktivitas x 100
Jumlah siswa keseluruhan
:
3. Data tentang hasil belajar siswa
Data tentang hasil belajar siswa dengan menggunakan media visual dianalisis dengan menggunakan persamaan:
% indikator belajar siswa= Jumlah skor yang diperoleh x 100
Jumlah Siswa keseluruhan
Data tentang hasil belajar dikatakan tuntas apabila sesuai dengan KKM yaitu 65,00
4. Data aktivitas siswa dan minat belajar tercapai apabila secara klasikal 65 % siswa telah melaksanakan

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIA SMP Negeri 1 Bayan dengan jumlah siswa 32 orang orang, yang terdiri dari 12 orang siswa laki- laki dan 20 orang siswa perempuan.
Menurut pengamatan peneliti secara fisik dan intelegensi bahwa siswa kelas VIIA memiliki kecakapan yang hampir sama atau rata- rata. Hal ini dapat dilihat pada aktivitas dan minat belajar siswa kelas VIIA mengenai materi motif ekonomi dan tindakan ekonomi di saat melaksanakan observasi awal yang menjadi landasan peneliti dalam melakukan tindakan.
a. Observasi Awal
Dari observasi awal yang peneliti lakukan ternyata banyak didapati masalah-masalah serta kelemahan- kelemahan siswa, sehingga siswa tidak tertarik dengan mata pelajaran IPS khususnya materi motif ekonomi dan tindakan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh:
1). Kurangnya keterampilan guru dalam memilih media yang tepat dalam pembelajaran, 2). Guru belum memanfaatkan/menggunakan media gambar.
3). Minat belajar siswa kurang atau belum sesuai dengan apa yang diharapkan. dan masalah yang paling menonjol yaitu dalam melaksanakan pembelajaran kebanyakan masih bersifat konvensional, artinya guru masih mendominasi jalannya pembelajaran dan belum memanfaatkan media pembelajaran secara maksimal sehingga pembelajaran yang dilakukan cenderung kurang menarik bagi siswa. Selain itu guru belum sepenuhnya memanfaatkan alat peraga dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Kebanyakan masih menggunakan lembar kerja yang dibeli. Untuk mengatasi hal itu perlu diadakan uji coba menggunakan media pembelajaran yaitu melalui media visual/gambar.
Melihat kondisi tersebut peneliti berkolaborasi dengan guru mata pelajaran IPS hendak memperbaiki minat belajar siswa ini dengan mempehatikan hal- hal yang harus dibenahi seperti alat atau media yang dapat menarik minat siswa dengan memanfaatkan media visual/gambar dalam proses pembelajaran.
b. Tindakan Siklus I.
Setelah dilakukan observasi awal dan diketahui minat belajar siswa, maka langkah yang selanjutnya adalah dilakukannya tindakan siklus I yang terdiri dari empat tahap. Tahapan- tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini peneliti terlebih dahulu mendiskusikan dengan guru mata pelajaran IPS tentang permasalahan pembelajaran dan tindakan yang direncanakan, menyusun perangkat pembelajaran berupa rencana pembelajaran yang disetting sebagai PTK, bahan pengajaran yang akan diberikan, menyiapkan media pembelajaran pendukung, bahan tugas untuk siswa, kisi- kisi soal, alat evaluasi serta menyusun alat evaluasi bersama guru mitra, menyusun lembar kerja sisiwa bersama guru, menyusun lembar observasi aktivitas siswa dan guru bersama guru mitra.
Dari hasil kesepakatan peneliti bersama kolaborator untuk memanfaatkan media visual/gambar sebagai media yang akan digunakan, pelaksanaan siklus I ini diadakan dua kali pertemuan. Hal ini bertujuan untuk melihat aktivitas siswa dalam meningkatkan minat belajar IPS terutama dalam materi mengenal tindakan ekonomi. Mengingat betapa kompleksnya materi tindakan ekonomi jika menggunakan media visual/gambar yang dapat dilihat secara nyata..
2. Tahap Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru mata pelajaran IPS. Adapun kegiatannya sebagai berikut:
Pertemuan Pertama
Dalam pertemuan ini membahas materi tentang mengenai tindakan ekonomi dengan urutan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa “apakah pernah kalian mengatasi masalah di sekolah ” sebagai prasayarat untuk dapat mengikuti pembehasan materi mengenal tindakan ekonomi,
b. Guru memberikan motivasi kepada siswa dengan menayangkan media visual/gambar tentang tindakan ekonomi. .
c. Guru menjelaskan rencana kegiatan dan tujuan pembelajaran.
d. Guru memberikan penjelasan mengenai cara menganalisis gambar .
e. Guru memberikan soal latihan berupa lembar kerja siswa yang dapat dikerjakan secara individu.
f. Guru berkeliling mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa yang kurang mengerti.
g. Setelah cukup diberi waktu 30 menit guru bersama siswa membahas soal latihan dengan cara menunjuk siswa untuk memaparkan di depan kelas, dengan bimbingan guru siswa lain mencocokkan hasil kerjanya.
h. Selesai membahas latihan- latihan soal, guru menanyakan pada siswa soal- soal manakah yang belum dikuasai ataupun yang sudah dikuasai oleh siswa.
i. Guru membimbing siswa untuk membuat rangkuman.
j. Guru memberikan PR kepada siswa untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan kedua
Kegiatan yang dilakukan dalam pertemuan ini adalah sebagai berikut:
a. Guru membahas PR dan menerangkan soal yang dianggap sulit oleh siswa
b. Guru memberikan soal test pada siklus I dengan waktu 10 menit.
c. Guru mengoreksi hasil kerja siswa dan mempersentasikan hasil tes siklus I.
3. Tahap Pengamatan (observasi)
Mengingat dalam penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru, maka pada tahap pengamatan (observasi) aktivitas belajar siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dipantau oleh peneliti dan dibantu oleh salah seorang pengamat dengan menggunakan pedoman lembar observasi aktivitas siswa.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS mengenai materi tindakan ekonomi dengan menggunakan media visual pada siklus I masih kurang, hal ini terlihat dalam beberapa aspek penilaian aktivitas belajar siswa dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel siklus 1 : Rekapitulasi aktivitas belajar siswa
No Aspek Jumlah Persentase (%) Ket.
1 Bertanya 18 56 % Belum tuntas
2 menjawab 23 72 % tuntas
3 Mencari sumber belajar 20 63 % Belum tuntas
4 Bekerja sama 26 81 % tuntas

Berdasarkan tabel di atas aktivitas siswa dalam aspek bertanya dan mencari sumber belajar perlu ditingkatkan. Sedangkan aspek bekerjasama melampui target yang ditentukan yaitu 65 %.
Sedangkan hasil angket siswa setelah kegiatan belajar mengajar minat siswa dalam belajar IPS dengan menggunakan media visual dapat dilihat dalam rekapitulasi tabel berikut ini.
Tabel siklus 1, Rekapitulas minat belajar siswa
No Aspek Jumlah Persentase (%) Ket.
1 Tidak pernah meninggalkan pelajaran 23 72 % tuntas
2 Mengerjakan tugas dengan baik 22 69 % tuntas
3 Focus/konsentrasi dalam belajar IPS 18 56 % tuntas
4 Maksimal dalam mengerjakan tugas mata pelajaran IPS 20 63 % tuntas
5 Tepat waktu mengerjakan tugas 24 75 % tuntas

Berdasarkan nilai hasil belajar siswa didapat dengan rata-rata 72.00, yang berarti telah memenuhi standar KKM yang ditentukan dalam mata pelajaran IPS yaitu 65.00
4. Tahap Refleksi
Setelah dilakukannya pelaksanaan maka diadakan refleksi. Kegiatan ini berguna untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar dan minat belajar siswa sebelum dan sesudah tindakan yang nantinya digunakan sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan siklus berikutnya.
Berdasarkan hasil refleksi dalam kegiatan pembelajaran secara keseluruhan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran berjalan sesuai dengan RPP, tetapi ada yang perlu diperhatikan oleh guru yaitu hendaknya guru memberikan media visual tiap siswa satu gambar agar pembelajaran efektif selain ada yang ditayangkan dalam LCD. Dan memberikan kerja kelompok dalam siklus II
. Peneliti menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan ini belum mencapai indikator kinerja yang sesuai dengan harapan khususnya pada aspek konsentrasi dalam belajar IPS dan Maksimal dalam mengerjakan tugas mata pelajaran IPS sehingga dilanjutkan ke siklus berikutnya.

Tindakan Siklus II
1. Tahap perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I baik yang berkaitan dengan siswa, guru ataupun perangkat, maka diadakan perencanaan ulang meliputi:
a. Pendekatan, strategi, metode dan media pembelajaran
b. Menciptakan suasana belajar yang lebih melibatkan keaktivan siswa
c. Menyusun struktur pembelajaran yang lebih efektif dan efisien
d. Pengelolaan kelas.
e. Perencanaan yang lainnya sama sebagaimana pada perencanaan siklus pertama.
2. Tahap Tindakan
Pertemuan ketiga
Dalam pertemuan ini membahas materi mengenai motif ekonomi dengan urutan kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
a. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa “apa motif kalian belajar ” sebagai prasarat untuk dapat mengikuti pembahasan materi mengenai motif ekonomi.
b. Guru melaksanakan rencana kegiatan dan tujuan pembelajaran.
c. Guru menjelaskan mengenai pengertian motif ekonomi dan macam-macam motif ekonomi.
d. Guru memberikan soal latihan berupa lembar kerja siswa yang dapat dikerjakan secara kelompok.
e. Guru berkeliling mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa yang kurang mengerti.
f. Setelah cukup diberi waktu 30 menit guru bersama siswa membahas soal latihan dengan cara menunjuk kelompok untuk memaparkan di depan kelas, dengan bimbingan guru siswa lain mencocokkan hasil kerjanya.
g. Selesai membahas latihan- latihan soal, guru menanyakan pada siswa soal- soal manakah yang belum dikuasai ataupun yang sudah dikuasai oleh siswa.
h. Guru membimbing siswa untuk membuat rangkuman.
i. Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk dibahas pada pertemuanberikutnya.
Pertemuan keempat
Dalam pertemuan ini membahas materi mengenai simbol- simbol pada peta dengan urutan kegiatan sebagai berikut:
a. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa” apakah siswa ingat motif produsen memproduksi barang” sebagai prasarat untuk melanjutkan materi minggu lalu.
b. Guru memberikan motivasi kepada siswa dengan menunjukkan gambar orang memproduksi barang.
c. Guru menjelaskan rencana kegiatan dan tujuan pembelajaran
d. Menggunakan media gambar, guru memberikan penjelasan mengenai macam-macam motif ekonomi
e. Guru memberikan soal latihan siklus II berupa lembar kerja siswa yang dikerjakan secara kelompok.
f. Guru berkeliling mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa yang kurangmengerti.
g. setelah cukup diberi waktu 30 menit guru bersama siswa membahas soal latihan dengan cara menunjuk kelompok untuk memaparkan di depan kelas, dengan bimbingan guru siswa lain mencocokkan hasil kerjanya.
h. Selesai membahas latihan- latihan soal, guru menanyakan pada siswa soal- soal manakah yang belum dikuasai ataupun yang sudah dikuasai oleh siswa.
i. Guru mengoreksi hasil kerja siswa dan mempersentasikan hasil tes siklus II
j. Guru membimbing siswa untuk membuat rangkuman.
k. Guru memberikan motivasi kepada siwa untuk mengulangi pelanjelasan mengenai materi mengenal peta dengan menggunakan google earth di rumah.
c. Tahap Pengamatan (observasi)
Observasi dilakukan sebagaimana pada siklus I, yaitu pada tahap pengamatan (observasi), aktivitas siswa selama proses pembelajaran dipantau langsung oleh peneliti dan dibantu oleh salah seorang pengamat dengan menggunakan pedoman lembar observasi aktivitas siswa.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS mengenai materi mengenai motif ekonomi dengan menggunakan media visual pada siklus II sudah baik, hal ini terlihat dalam beberapa aspek penilaian aktivitas belajar siswa.
Tabel siklus II : Rekapitulasi aktivitas belajar siswa
No Aspek Jumlah Persentase (%) Ket.
1 Bertanya 24 75 % tuntas
2 menjawab 28 88 % tuntas
3 Mencari sumber belajar 25 78 % tuntas
4 Bekerja sama 30 94 % tuntas

Berdasarkan tabel di atas aktivitas siswa dalam aspek bertanya dan mencari sumber belajar perlu ditingkatkan. Sedangkan aspek bekerjasama melampui target yang ditentukan yaitu 65 %.
Sedangkan hasil angket siswa setelah kegiatan belajar mengajar minat siswa dalam belajar IPS dengan menggunakan media visual dapat dilihat dalam rekapitulasi tabel berikut ini.

Tabel siklus II, Rekapitulas minat belajar siswa
No Aspek Jumlah Persentase (%) Ket.
1 Tidak pernah meninggalkan pelajaran 28 88 % tuntas
2 Mengerjakan tugas dengan baik 27 84 % tuntas
3 Focus/konsentrasi dalam belajar IPS 24 75 % tuntas
4 Maksimal dalam mengerjakan tugas mata pelajaran IPS 26 81 % tuntas
5 Tepat waktu mengerjakan tugas 30 94 % tuntas

Berdasarkan nilai hasil belajar siswa didapat dengan rata-rata 78.00, yang berarti telah memenuhi standar KKM yang ditentukan dalam mata pelajaran IPS yaitu 65.00
B. Pembahasan
Dari hasil refleksi dan deskripsi data yang telah diuraikan tersebut bahwa ternyata dari segi hasil aktivitas belajar, minat belajar dan segi indikator belajar siswa yang diadakan oleh peneliti belum mencapai hasil yang optimal. Hal ini ditunjukkan dengan masih kurangnya minat siswa dalam menggunakan menggunakan media visual terutama pada pembelajaran IPS mengenai materi tindakan ekonomi dan motif ekonomi. Peneliti menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan ini belum mencapai indikator kinerja yang sesuai dengan harapan dan akan dilanjutkan ke siklus berkutnya . Dari hasil refleksi dan deskripsi data yang telah diuraikan tersebut bahwa ternyata dari segi hasil aktivitas belajar, minat belajar dan segi indikator belajar siswa yang diadakan oleh peneliti sudah mencapai hasil yang optimal. Hal ini ditunjukkan dengan nampaknya minat belajar siswa dalam menggunakan media gambar terutama pada pembelajaran IPS mengenai materi tindakan ekonomi. Melihat minat belajar siswa kelas VIIA yang dicapai dari siklus I dan siklus II berarti semakin memperjelas adanya manfaat dari penggunaan media gambar dalam pembelajaran IPS terutama materi tindakan ekonomi dan motif ekonomi terjadi peningkatan, hal dapat dilihat dari tabel berikut ini;
Tabel V . Rekapitulasi aktivitas belajar siswa
No Aspek Siklus 1
(%) Siklus II (%) Peningkatan
1 Bertanya 56 % 75 % 16 %
2 menjawab 72 % 88 % 16%
3 Mencari sumber belajar 63 % 78 % 13%
4 Bekerja sama 81 % 94 % 13%

Sedangkan peningkatan minat belajar IPS dengan menggunakan media gambar dapat dilihat dalam tabel berikut:
No Aspek Siklus I
(%) Siklus II
((%) peningkatan
1 Tidak pernah meninggalkan pelajaran 72 % 88 % 16 %
2 Mengerjakan tugas dengan baik 69 % 84 % 15%
3 Focus/konsentrasi dalam belajar IPS 56 % 75 % 19%
4 Maksimal dalam mengerjakan tugas mata pelajaran IPS 63 % 81 % 18%
5 Tepat waktu mengerjakan tugas 75 % 94 % 19%

Berdasarkan deskripsi yang dijelaskan pada pembahasan tersebut, maka jelaslah bahwa media gambar telah berhasil meningkatkan aktivitas belajar siswa sesuai dengan indikator yang diharapkan yakni jika aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran mencapai 65% dan jika minat belajar siswa yang dikenai tindakan memperoleh daya serap 65% ke atas selama proses pembelajaran.

Sedangkan hasil belajar siswa terjadi peningkatan hasil belajar hal dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
No Rerata nilai UH
Siklus I Rerata nilai UH
Siklus II peningkatan
72.00 78.00 0,6

Dengan demikian, maka hipotesis tindakan yang berbunyi “Jika Dalam Pembelajaran IPS Khususnya Materi Peta Diajarkan Dengan Menggunakan Media Gambar, Maka Minat Belajar Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 1 Bayan Akan Meningkat dan Dapat Diterima”.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan pelaksanaan pembelajaran IPS pada materi peta dengan pemanfaatan media gambar yang sesuai dengan prosedur yang direncanakan mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa, minat belajar siswa dan hasil belajar siswa kelas VIIA SMP Negeri 1 Bayan dari rerata 72,00 pada siklus pertama sedangkan rerata siklus kedua rerata menjadi 78,00 kelas VIIA SMP Negeri 1 Bayan.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diperoleh maka dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Kepada kepala sekolah
a) Lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas.
b) Hendaknya lebih menekankan pada guru untuk menggunakan media pembelajaran yang tepat, mudah dan murah untuk kelancaran proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan.
2. Kepada Guru
a) Diharapkan dalam suatu pembelajaran dapat menggunakan media yang tepat demi mendukung kelancaran pembelajaran
b) Diharapkan kepada guru agar selalu menggunakan media gambar pada pembelajaran IPS tentang materi tindakan ekonomi dan motif ekonomi agar siswa lebih berminat belajar IPS.

DAFTAR PUSTAKA
Arif Sardiman. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta Raja Grasindo Persada

Arthur J. Gates dalam Fudyartanto http://www.find-docs.com/aspek-aspek-minat-belajar-pada-siswa.html (27-1-2011)

Crow, L.D., dan Crow, A. 1982. Psikologi Pendidikan, penerj. Kasijan Z,. Surabaya: PT Bina Ilmu

Dailer dalam Sumartono. 1983. Modifikasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung Tarsito
Dimiyati dan Mudjiono. 1999. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta
Hamalik.2004. Kurikulum dan Pembelajaran. PT. Bumi Aksara
Mohamad Arbin Samsudin, 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta PT.Rosdakarya
Purbakawaca dalam Nurkancana, 1987. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta Rineka Cipta
Rahadi Aristo. Media Pembelajaran. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar.Jakarta
Uno. Dkk. 2004. Model Pembelajaran. Nurul Jannah Gorontalo
Usman Basirudin. 2002. Metode Pembelajaran. Ciputat Press. Jakarta

PTK:UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS VII.1 SMPN 1 TANJUNG MELALUI PENDEKATAN LEARNING COMMUNITY TAHUN PELAJARAN 2012/2013

LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS VII.1 SMPN 1 TANJUNG MELALUI PENDEKATAN LEARNING COMMUNITY TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Disusun Oleh :
1. Drs Ngakan Nyoman Gelung
2. Susilah, S.Pd
3. Ifan Efendi, S.Pd
4. Andre Supan, S.Pd
5. Baiq Eriani S, S.Pd
6. Saptudin, SPd

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA
DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN IPS SMP
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Secara praktis, guru adalah ujung tombak dalam pembelajaran. Strategi dan manajemen guru untuk mengatasi masalah pembelajaran sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru, dan pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran masih sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat pasif sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, ketrampilan atau sikap yang mereka butuhkan.
Dalam implementasi materi, menemukan IPS lebih menekankan aspek pengetahuan, berpusat pada guru, mengarahkan bahan berupa informasi yang tidak mengembangkan berpikir nilai serta hanya membentuk budaya menghafal dan bukan berpikir kritis. Dalam pelaksanaan menilai pembelajaran IPS sangat menjemukan karena penyajiannya bersifat monoton dan ekspositoris sehingga siswa kurang antusias dan mengakibatkan pelajaran kurang menarik padahal guru IPS wajib berusaha secara optimum merebut minat siswa karena minat merupakan modal utama untuk keberhasilan pembelajaran IPS.
Hal tersebut dapat dilihat dari hasil ulangan harian IPS yang pertama di kelas VII.1 SMPN 1 Tanjung pada kompetensi dasar mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan mencapai rata – rata 57,8 dan hanya 50 % siswa mencapai nilai 70 atau > 70. Padahal idealnya minimal harus mencapai 100% siswa mendapat 70 atau > 70.. Kondisi tersebut disebabkan oleh kenyataan sehari – hari yang menunjukkan bahwa siswa kelihatannya jenuh mengikuti pelajaran IPS. Pembelajaran sehari – hari menggunakan metode ceramah dan latihan – latihan soal secara individual dan tidak ada interaksi antar siswa yang pandai, sedang dan normal. Hal ini terbukti sebagian besar siswa mengeluh apabila diajak belajar IPS.
Kenyataan tersebut, menunjukkan bahwa proses yang dilakukan oleh guru untuk pembelajaran IPS belum aktif. Dengan demikian dapat diduga bahwa yang menjadi kendala yang dirasakan adalah masalah proses pembelajaran yang kurang variasi dan kurang melibatkan siswa secara aktif. Guru menggunakan model pembelajaran yang terkesan monoton sehingga siswa menjadi kurang aktif.
Setelah memperhatikan situasi kelas yang seperti itu, maka perlu dipikirkan cara penyajian dan suasana pembelajaran IPS yang cocok untuk siswa, sehingga siswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Saat ini pemerintah sudah sering mensosialisasikan berbagai model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang disosialisasikan adalah model pembelajaran learning community.
Learning community dilandasi oleh konstruktivisme sosial Kontruktivisme sosial merupakan paradigma pembelajaran yang digagas oleh Vygotsky, pembelajaran berfokus pada proses dan interaksi dalam konteks social. Interaksi dan proses sosial mejadi perhatian dalam mencapai tujuan pembelajaran. learning community merupakan suatu konsep terciptanya masyarakat belajar di sekolah, yakni proses belajar membelajarkan antara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan bahkan antara masyarakat sekolah dengan masyarakat di luar sekolah, agar prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan. learning community berusaha menggeser pembelajaran yang bersifat individual menjadi pembelajaran yang bersifat sosial. Ini berarti iklim kompetitif dalam kelas harus diubah menjadi iklim sosial, sehingga tidak terjadi kesenjangan intelektual dan pengalaman di antara siswa.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian Apakah pendekatan pembelajaran learning community dapat meningkatkan prestasi belajar IPS di kelas VII.1 SMPN 1 Tanjung tahun pelajaran 2012/2013 ?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa khusunya di kelas VII.1 SMPN 1 Tanjung.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada :
a. Siswa, agar prestasi belajarnya meningkat dan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menarik, menyenangkan, dan mengasyikkan.
b. Guru, agar dapat menambah wawasan dan informasi tentang pilihan berbagai bentuk- bentuk strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran IPS.
c. sekolah, diharapkan dapat memberikan informasi dalam peningkatan kualitas pendidikan dan terjaminnya pelayanan sekolah kepada siswanya.
d. Penelitian lanjutan, sebagai bahan rujukan dalam penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut teori behaviorisme, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon atau perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar bila ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Menurut teori ini, yang terpenting adalah masukan/ input yang berupa stimulus dan keluaran/ output berupa respon. Faktor yang mempengaruhi belajar dalam teori ini adalah penguatan respons (Daryanto, 2009).
Menurut teori humanistik, belajar adalah untuk memanusiakan manusia atau dapat dikatakan proses aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Proses belajar dapat dianggap berhasil bila seorang pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Faktor yang berpengaruh disini adalah pengalaman konkrit, pengalaman aktif dan reflektif, konseptualisasi dan eksperimentasi seorang pelajar (Daryanto, 2009).
Menurut teori kognitivisme, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Asumsi dasar teori ini adalah bahwa setiap orang mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya yang tertata dalam bentuk struktur kognitif. Proses belajar akan berjalan dengan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersinambung) secara “klop” dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki oleh seorang anak (Daryanto, 2009).
Menurut aliran sibernetik, belajar adalah proses pengolahan informasi. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu informasi. Menurut teori ini tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, yang cocok untuk semua siswa. Dengan kata lain sebuah informasi mungkin akan dipelajari seorang siswa dengan cara belajar yang berbeda (Daryanto, 2009).
Menurut aliran skolastik belajar pada hakekatnya adalah mengulang-ulang bahan yang harus dipelajari. Dengan diulang-ulang maka bahan pelajaran akan semakin diingat atau dikuasai. Hal ini sama dengan pendapat ahli-ahli psikologi daya, belajar adalah proses melatih daya jiwa yaitu mengerjakan sesuatu yang sama berulang-ulang dengan jalan melatihnya, proses mengerjakan sesuatu berulang-ulang sehingga daya ingatan akan menjadi lebih tinggi kalau berulang-ulang mengingat sesuatu tersebut (Sumadi, 2002).
Jadi belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman berupa perubahan tingkah laku, mendapatkan kecakapan baru yang berlangsung lambat laun melalui usaha aktualisasi diri sebaik-baiknya yang terjadi secara berulang-ulang. Belajar juga merupakan suatu pengolahan informasi yang diterima seseorang sebagai bukti pengaktualisasian diri seseorang. Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, umumnya ditujukan dengan nilai yang diberikan oleh guru (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001).
Prestasi belajar merupakan hasil dari proses kegiatan belajar. Untuk mengetahui prestasi belajar dapat dilakukan melalui proses penilaian hasil belajar dengan menggunakan tes maupun evaluasi (Zainul dan Nasution, 1997). Dalam kehidupan sehari-hari umumnya seseorang akan dihargai melalui prestasi belajarnya atau keberhasilannya.
2. Pengukuran Prestasi Belajar
Pengukuran adalah pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh seseorang, hal atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Jadi pengukuran prestasi belajar adalah pemberian angka atau skala tertentu menurut suatu aturan atau formula tertentu terhadap penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui pelajaran. Pengukuran ini digunakan oleh seorang pendidik atau guru untuk melakukan penilaian terhadap hasil belajar anak didiknya, baik menggunakan instrumen tes maupun non tes. Tes adalah suatu pernyataan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang atribut pendidikan yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan tertentu yang dianggap benar (Zainul dan Nasution, 1997).
Instrumen non tes lebih ditekankan pada sikap seorang anak didik, misalnya sopan santun, budi pekerti dan hubungan sosial dengan teman dan lingkungan. Penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan baik dan benar bila menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar dengan menggunakan tes sebagai alat ukurnya. Secara garis besar penilaian dapat dibagi menjadi dua, yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif digunakan untuk memantau sejauh manakah proses pendidikan telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sedangkan penilaian sumatif dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah dapat berpindah dari satu unit keunit berikutnya (Zainul dan Nasution, 1997).
Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai instrumen penelitian adalah nilai ulangan harian, yaitu nilai pada kegiatan sehari – hari pada uji kompetensi. Hal ini dikarenakan nilai ulangan harian memberi gambaran yang jelas tentang kemampuan belajar seorang anak atau peserta didik. Nilai ulangan harian yang di ambil adalah nilai ulangan harian mata pelajaran IPS. Adapun caranya untuk menentukan prestasi belajar anak yaitu dengan mengambil nilai mentah hasil ulangan harian. Setelah itu barulah kita tentukan prestasi belajar anak dengan menggunakan batasan nilai KKM ( criteria ketuntasan minimal ). Disini peneliti mengambil nilai ulangan karena nilai ulangan harian adalah nilai asli yang belum ditambah oleh guru sehingga hasilnya akan menjadi lebih valid.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Proses belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor yang berasal dari luar diri anak (eksternal) dan faktor yang berasal dari dalam diri anak (internal). Faktor dari luar diri anak ada dua yaitu faktor-faktor non sosial dan faktor-faktor sosial, sedangkan faktor internal digolongkan menjadi dua yaitu faktor-faktor fisiologis dan faktor-faktor psikologis. Faktor-faktor non sosial dalam belajar meliputi keadaan suhu, udara, cuaca, waktu (pagi, siang, malam), tempat (gedungnya, letaknya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (alat-alat tulis, buku, alat-alat peraga dan lain-lain). Kesemua faktor tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu, misalnya lingkungan belajar harus jauh dari kebisingan, bangunan harus memenuhi standar dalam ilmu kesehatan sekolah, alat-alat pelajaran sekolah harus diusahakan untuk memenuhi syarat-syarat menurut pertimbangan didaktis, psikologis dan paedagogis (Sumadi, 2002).
Faktor-faktor sosial dalam belajar adalah faktor manusia atau sesama manusia, baik manusia itu ada atau tidak ada secara langsung. Kehadiran orang lain dalam belajar dapat menganggu konsentrasi pada seseorang yang sedang belajar sehingga perhatian tidak dapat ditujukan pada hal yang dipelajari atau aktivitas belajar itu semata-mata (Sumadi, 2002).
Faktor-faktor fisiologis dalam belajar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kesehatan jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu. Keadaan kesehatan jasmani pada umumya melatar belakangi aktivitas belajar dan akan mempengaruhi hasil belajar, misalnya tubuh kurang segar dan lelah. Hal yang perlu diperhatikan adalah anak harus mendapatkan nutrisi yang cukup agar kesehatan jasmaninya baik. Selain nutrisi beberapa penyakit infeksipun dapat menganggu proses belajar anak, misalnya pilek, sakit gigi, batuk dan lain sebagainya. Keadaan fungsi fisiologis tertentu disini adalah fungsi-fungsi dari panca indera yang merupakan syarat agar proses belajar berlangsung dengan baik. Dalam proses belajar, panca indera yang paling memegang peranan penting dalam diri anak adalah mata dan telinga. Mata berfungsi sebagai alat penglihatan yang merupakan salah satu penunjang perkembangan kemampuan anak, yaitu melalui proses membaca ataupun pengamatan terhadap segala hal yang ada disekitarnya. Begitu juga telinga, indera ini mempunyai arti penting dalam proses belajar anak. Hal ini dikarenakan telinga berfungsi untuk mendengarkan suara, kata, bunyi yang menyebabkan anak meniru sehingga menambah kemampuan dalam diri anak (Daryanto, 2009).
Faktor-faktor psikologis dalam belajar adalah faktor dari dalam diri anak yang mendorong aktivitas belajarnya yaitu adanya rasa ingin tahu, adanya sifat kreatif dan keinginan untuk selalu maju, keinginan untuk memperbaiki kegagalan, adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran dan adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar, seperti yang dikemukakan oleh Frandsen dalam Sumadi (2002). Selain hal tersebut, faktor pendorong yang besar pengaruhnya dalam belajar adalah adanya minat, bakat, motivasi dan cita-cita.
Minat akan menjadikan anak bersemangat untuk belajar sehingga akan menghasilkan prestasi belajar yang baik. Bakat adalah kemampuan individu untuk melakukan suatu tugas yang sedikit sekali tergantung pada latihan mengenai hal tersebut. Adanya minat dan bakat yang tinggi didalam belajar akan menghasilkan tujuan yang dikehendaki dari belajar yang utama yaitu bahwa apa yang dipelajari itu berguna dikemudian hari yakni membantu anak untuk dapat belajar terus dengan cara yang lebih mudah. Dari sini diharapkan seorang anak dapat mengembangkan sikap positif terhadap belajar, penelitian dan penemuan serta pemecahan masalah atas kemampuan sendiri. Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut. Seorang anak akan berusaha mencapai suatu tujuan karena terdorong untuk mendapat manfaat dalam melakukan suatu tugas. Cita-cita merupakan pusat dari bermacam-macam kebutuhan yang mampu memobilisasikan energi psikis anak untuk belajar. Dengan mempunyai cita-cita seorang anak akan mempunyai ketertarikan yang tinggi untuk belajar (Sumadi, 2002).
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya (Daryanto, 2009).
1. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat, motivasi, status gizi dan penyakit infeksi.
a) Kecerdasan/intelegensi
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar. Kecerdasan merupakan salah satu aspek yang penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau di atas normal maka secara potensi ia dapat mencapai prestasi yang tinggi (Daryanto, 2009).
b) Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata. Tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik (Daryanto, 2009).
c) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (1996) minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
d) Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar. Motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri dan belajar secara aktif
e) Status Gizi
Status gizi yang baik berperan penting dalam mencapai pertumbuhan badan yang optimal, termasuk pertumbuhan otak yang sangat menentukan kecerdasan seseorang sehingga dampak akhir dari konsumsi gizi yang baik dan seimbang adalah meningkatnya prestasi dan kualitas sumber daya manusia (Supariasa, 2002).
f) Penyakit Infeksi dan Fungsi Panca Indera
Penyakit infeksipun dapat menganggu proses belajar anak, misalnya pilek, sakit gigi, batuk dan lain sebagainya. Keadaan dan fungsi-fungsi dari panca indera yang merupakan syarat agar proses belajar berlangsung dengan baik. Jika tubuh dalam keadaan sehat dan fungsi panca indra baik, maka secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap prestasi belajar (Sumadi, 2002).
2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat (Sumadi , 2002).
a) Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Dalam hal ini Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar (Sumadi , 2002).
b) Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya (Sumadi , 2002).
c) Lingkungan Masyarakat
Selain orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalam proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada. Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak-anak di sekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentukan anakpun dapat terpengaruh pula. Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya (Sumadi , 2002).
B. Model Pembelajaran Learning Community (masyarakat belajar)
Joyce & Weil (1996) dalam bukunya ”Models of Teaching” memaparkan beberapa model pembelajaran dengan unsur-unsur dasar, yaitu (1) syntax, yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran, (2) social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran, (3) principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa, (4) support system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan (5) instructional dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar (nurturant effects). Lima unsur tersebut dicoba dipaparkan pada bagian ini sehingga tergambar Model Learning Community yang dimaksud dalam penelitian ini.
Model Learning Community sulit didefinisikan secara jelas karena masih baru dan bersifat kompleks (Pancucci, 2007). Tetapi menurut Zhao & Kuh (2004), konsep learning community tidaklah baru sama sekali. Konsep ini diperkenalkan oleh Alexander Meiklejohn pada tahun 1920 (Smith dalam Zhao & Kuh, 2004). Pengembangan selanjutnya juga dilakukan pada tahun 1960 dan 1980. Bielaczyc & Collins (dalam Tastra et al., 2009) mengungkapkan bahwa komunitas belajar (learning communities) adalah suatu budaya belajar yang melibatkan setiap siswa untuk melakukan upaya-upaya kolektif dalam membangun pemahaman.
Tiga ide pokok dalam profesional learning community meliputi: 1) memastikan bahwa siswa belajar, 2) menciptakan budaya kolaboratif dan 3) fokus pada hasil (DuFour dalam Huges, 2006). Menurut Lenning dan Ebbers (dalam Zhao & Kuh, 2004), terdapat empat bentuk learning community. Salah satunya adalah learning community yang diterapkan dalam pembelajaran kelas. Pada bentuk ini, Model Learning Community sebagai lokus pembangunan komunitas yang dicirikan dengan teknik-teknik pembelajaran kooperatif dan aktivitas pembelajaran proses kelompok sebagai sebuah pendekatan pendidikan yang terintegrasi. Sesuai dengan latar belakang dan tujuan penelitian, Model Learning Community yang dimaksud pada penelitian ini adalah bentuk learning community yang diterapkan dalam pembelajaran di kelas.
Secara lebih sfesifik, Markowitz, et al. (dalam Singh et al., 2009) mendefinisikan classroom learning communities sebagai sesuatu yang mendorong: (1) penghargaan terhadap perbedaan pelajar (budaya, bahasa, umur, dan sebagainya) dalam kelas; (2) kesediaan siswa untuk mengambil risiko intelektual dalam lingkungan belajar; (3) tujuan bersama untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan; dan (4) sebuah keterkaitan antara pelajar yang mengarah ke identitas umum dan rasa memiliki (sense of belonging). Karakteristik ini digunakan sebagai kerangka untuk mengembangkan strategi instruksional pengembangan learning community.
Learning community dilandasi oleh konstruktivisme sosial (Cross dalam Zhao & Kuh, 2004). Kontruktivisme sosial merupakan paradigma pembelajaran yang digagas oleh Vygotsky, pembelajaran berfokus pada proses dan interaksi dalam konteks sosial (Hung dalam Perry et al., 2009). Interaksi dan proses sosial mejadi perhatian dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hal senada diungkapkan oleh Syamsuri dan Kennedy. Menurut Syamsuri (2007), learning community merupakan suatu konsep terciptanya masyarakat belajar di sekolah, yakni proses belajar membelajarkan antara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan bahkan antara masyarakat sekolah dengan masyarakat di luar sekolah, agar prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan. Menurut Kennedy (2009), learning community berusaha menggeser pembelajaran yang bersifat individual menjadi pembelajaran yang bersifat sosial. Ini berarti iklim kompetitif dalam kelas harus diubah menjadi iklim sosial, sehingga tidak terjadi kesenjangan intelektual dan pengalaman di antara siswa.
Kennedy (2009) juga mengungkapkan bahwa seorang guru dalam learning community lebih berperan untuk menawarkan pernyataan ulang, memberi klarifikasi, memberi contoh-contoh, memberikan ringkasan, memotivasi siswa untuk bekerja sebaik mungkin, serta menjadi pendengar yang aktif. Ini memberikan dasar bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa.
Engstrom & Tinto (2008) menunjukkan bahwa aspek dalam komunitas belajar (learning community) yang berkontribusi terhadap keberhasilan belajar adalah lingkungan yang aman dan mendukung proses pembelajaran. Lingkungan ini tercipta dengan menerapkan empat strategi kunci dalam menciptakan komunitas belajar. Empat strategi kunci itu meliputi (1) penggunaan strategi pembelajaran aktif dan kolaboratif, (2) pengembangan kurikulum yang koheren dan terpadu, (3) pengintegrasian layanan dan program satuan pendidikan dalam komunitas belajar, dan (4) pemberian dorongan dan dukungan kepada pebelajar untuk memiliki harapan yang tinggi.
Berdasarkan penelitian Engstrom & Tinto, dapat diambil dua hal penting dalam mengembangkan Model Learning Community. Pertama, bahwa seting pembelajaran kolaboratif sangat penting digunakan dalam model ini. Kedua, peran guru sebagai motivator dalam menumbuhkan ekspektasi dan rasa percaya diri siswa yang menjadi ciri yang khas dalam Model Learning Community. Pembelajaran kolaboratif dan eksperensial merupakan kunci dari learning community (Gabelnick et al. dalam Kent, 2009).
Sebagai sebuah model pembelajaran di kelas, konsep Panccuci sesuai untuk diadopsi dalam model ini. Menurut Panccuci (2007), learning community merupakan sebuah kelompok yang anggotanya terlibat secara aktif untuk belajar satu sama lain dengan karakteristik individu yaitu (1) kolaboratif mindset, (2) fokus pada pembelajaran, (3) fokus pada hasil, (4) orientasi kepada tindakan, (5) penemuan yang kolektif, (6) informasi yang relevan dan (7) komitmen untuk peningkatan berkelanjutan.
Tastra et al. (2009) mengembangkan model-model komunitas belajar berdasarkan filosofi John Dewey, psikologi behavioristik, psikologi sosial, dan psikologi kognitif. Konsep Dewey (Tastra, et al., 2009) dalam pendidikan bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Gagasan Dewey kemudian dikembangkan oleh Thelen menjadi teknik group investigation. Konsep Dewey dan pengembangan oleh Thelen inilah yang mendasari pengembangan model komunitas belajar group investigation oleh Tastra dan kawan-kawan.
Slavin (1995) mengungkapkan langkah-langkah model group investigation sebagai berikut.
1. Grouping (menetapkan jumlah anggota komunitas, menentukan sumber, memilih topik dan merumuskan permasalahan).
2. Planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya).
3. Investigation (saling tukar informas dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi).
4. Organizing (anggota komunitas menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator dan notulis).
5. Presenting (salah satu komunitas menyajikan, komunitas lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan).
6. Evaluating (masing-masing pebelajar melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, pebelajar dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman).

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kondisi Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa kelas VII.1 SMPN 1 Tanjung dengan jumlah siswa di kelas ini adalah 35 orang yang terdiri dari 16 orang laki – laki dan 19 orang perempuan.
Siswa kelas VII.1 sebagai subyek penelitian ini memiliki karakteristik yang heterogen. Heterogen baik dalam segi kemampuan intelegensi, motivasi belajar, latar belakang keluarga, maupun sifat dan wataknya. Dari segi watak ada beberapa siswa yang memiliki watak sulit diatur, sehingga kadang-kadang menyulitkan guru pada saat pembelajaran berlangsung. Namun secara umum memiliki kepribadian yang cukup baik.
Permasalahan tersebut mungkin dikarenakan semangat belajar yang kurang. Keadaan tersebut dapat dilihat keadaan sehari-hari, di mana siswa sering mengeluh pusing dan bosan bila diajak belajar IPS. Permasalahan inilah yang mendorong peneliti mengangkat mata pelajaran IPS kompetensi dasar tentang peta, atlas dan globe untuk mendapatkan informasi keruangan sebagai obyek penelitian.
B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani, 2005). Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana dinyatakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Yatim Riyanto, 2001) merupakan penelitian yang bersiklus, yang terdiri dari perencanaan,pelaksanaan,observasi, dan refleksi yang dilakukan secara berulang, hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Obyek Tindakan
Proses penelitian tindakan kelas ditik beratkan pada prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran melalui pendekatan learning community, melalui strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam meraih prestasi belajar .
2. Tempat, waktu dan subyek penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Tanjung Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan mulai dari minggu ke 2 bulan Juli 2012 sampai dengan minggu ke 2 bulan September 2012. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII.1 Smpn 1 Tanjung dengan jumlah siswa di kelas ini adalah 35 orang yang terdiri dari 16 orang laki – laki dan 19 orang perempuan.
3. Sumber Data
Sumber data penelitian adalah data primer yang diperoleh melalui angket, wawancara dan observasi pada siswa kelas VII.1 SMPN 1 Tanjung pada tahun ajaran 2012/2013
4. Teknik dan alat pengumpulan data
Dalam PTK ini pengumpulan data dilakukan dengan teknik :
a. Angket, yaitu untuk memperoleh data secara cepat dari responden dalam waktu singkat.
b. Observasi, yaitu untuk cross check data yang dikumpulkan dari angket, tentang sikap dan perilaku guru selama kegiatan sehingga diharapkan mendapatkan data yang akurat.
c. Wawancara, yaitu melengkapi data yang diperoleh melalui angket dan observasi.
5. Validasi Data
Untuk memperoleh data yang valid peneliti melalukan validasi data yang diperoleh dari angket, observasi dan wawancara.
6. Analisis data
Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Analisis kuantitatif, yaitu adalah analisis data yang dinyatakan dengan angka.
b. Analisis kualitatif adalah analisis data yang dinyatakan dengan kualita atau keterangan yang dilakukan pada data hasil angket, observasi, dan wawancara.
Analisis digunakan terhadap data hasil penelitian tahap pra siklus, siklus pertama, dan siklus ke dua. Teknik analisis dilakukan dengan membandingkan seberapa besar selisih nilai yang diperoleh siswa dalam mengikuti ulangan harian dan aktifitas siswa selama proses pembelajaran pada setiap tahap.
a. Jadwal Penelitian
Jadwal kegiatan penelitian dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari minggu ke dua bulan Nopember dan destember sampai minggu pertama bulan Januarir 2013. Secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 1. di bawah ini.
C. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan (Planning), pelaksanaan (actuating), observasi (observing), dan refleksi (reflecting).
Prosedur penelitian tindakan kelas dilakukan secara bertahap mulai dari kegiatan awal (pra siklus), pelaksanaan tindakan siklus pertama dan siklus ke dua.

Tahapan Penelitian Tindakan kelas.
1. Tahap Pra Siklus
Langkah Tindakan pada Kegiatan Pra Siklus
a. Menginformasikan kepada kelas VII.1 SMPN 1 Tanjung pada saat proses pembelajaran akan dimulai bahwa kelasnya dijadikan penelitian.
b. Mengadakan ulangan harian / pretest
c. Menganalisis hasil ulangan
d. Mengamati aktifitas siswa baik sikap dan perilakunya selama mengikuti proses pembelajaran maupun ulangan.
e. Melakukan penelitian.
2. Siklus Pertama
Kegiatan penelitian tindakan kelas tahap siklus pertama dilaksanakan berdasarkan hasil kegiatan tahap pra siklus. Tahap siklus pertama diterapkan tindakan penelitian dengan menggunakan pendekatan learning community yaitu sebagai berikut:
a. Perencanaan
Penyusunan perencanaan mengacu pada peningkatan prestasi dan partisipasi belajar siswa mata pelajaran IPS
Perencanaan penelitian tindakan kelas menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1). Mengkondisikan kelas agar dapat digunakan untuk penelitian tindakan kelas.
2). Menyiapkan perangkat penelitian, antara lain :
a). Menyusun angket penelitian.
b). Menyusun pedoman observasi.
c). Menyusun pedoman wawancara atau panduan wawancara.
d). Menyiapkan pedoman analisis data.
b. Tindakan
Melaksanakan penelitian tindakan kelas, dengan menggunakan skenario sebagai berikut :
1). Membentuk kelompok belajar berdasarkan hiterogenitas jenis kelamin, kemampuan.
2). Memberi penjelasan kepada kelompok tentang materi yang harus didiskusikan, dan yang dilakukan dalam kelompok.
3). Menugaskan kelompok untuk membuat kesimpulan materi yang didiskusikan dalam kelompok
4. Membimbing kelompok dalam mengerjakan tugas diskusi.
5). Rangkuman yang dibuat harus dihubungkan dengan kondisi riil di masyarakat setempat.
6). Masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok.
7). Kelompok lain diberi kesempatan untuk memberi tanggapan hasil kelompok lain.
8). Meminta kelompok mengumpulkan hasil kerja kelompok.
9). Membuat kesimpulan bersama dalam kelas.
. c. Pengamatan atau Observasi
Peneliti mengadakan pengamatan atau observasi selama proses pembelajaran dan laporan hasil kerja kelompok siswa berupa rangkuman hasil diskusi kelompok, meliputi :
1). Reaksi siswa saat menerima tugas mendiskusikan materi.
2). Aktifitas siswa selama diskusi kelompok.
3). Partisipasi siswa dalam membuat laporan hasil kerja.
4). Produk siswa yang berupa laporan hasil kerja kelompok
5). Partisipasi siswa selama diskusi kelas.
6). Partisipasi siswa selama membuat laporan bersama.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan atau observasi dan wawancara selama kagiatan siklus pertama, diperoleh data aktifitas dan hasil kerja siswa selama diskusi. Data tersebut digunakan sebagai dasar untuk menyusun rencana tindakan pada siklus ke dua.
Kegiatan refleksi dilakukan untuk mengetahui kelemahan tindakan siklus pertama, apakah telah terjadi perubahan atau belum, dan bagaimana cara mengatasi kelemahan-kelamahan yang terjadi pada siklus tersebut, selanjutnya digunakan untuk merencanakan tindakan siklus ke dua.
3. Siklus ke Dua
Penelitian tindakan kelas pada siklus ke dua dilaksanakan berdasarkan refleksi dari pelaksanaan tindakan siklus pertama. Pelaksanaan tindakan siklus ke dua dilaksanakan dengan tujuan memperbaiki kelemahan – kelemahan tindakan siklus pertama. Adapun langkah-langkah tindakan siklus ke dua adalah sebagai berikut :
a. Perencanaan
Kegiatan perencanaan siklus ke dua adalah sebagai berikut :
1). Menyusun rencana atau skenario tindakan ulang berdasarkan evaluasi dan catatan yang didapat berdasarkan hasil refleksi siklus pertama.
2). Menyiapkan perangkat tindakan berupa lembar pengumpulan data dan perangkat analisis data.
3). Melaksanakan rencana tindakan siklus ke dua dengan pendekatan learning community

b. Tindakan
Pada siklus ke dua, peneliti melakukan tindakan yang berupa perbaikan dari tindakan siklus pertama, dengan menggunakan pendekatan yang sama seperti siklus pertama yakni pendekatan learning community yang lebih bervariasi.
c. Observasi atau pengamatan
Kegiatan yang dilakukan pada saat observasi adalah
1). Peneliti melakukan pengamatan atau observasi dengan menggunakan lembar pengamatan terhadap proses diskusi siswa
2). Mengumpulkan data hasil diskusi siswa baik diskusikelompok maupun diskusi kelas.
d. Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada saat refleksi adalah
1. Memeriksa dan menilai hasil diskusi siswa.
2). Mengidentifikasi kelemahan yang timbul pada tindakan siklus ke ua berlangsung.
3). Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap proses dan hasil kerja siswa selama siklus ke dua.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
1. Deskripsi Hasil Belajar Prasiklus
Hasil pembelajaran kondisi awal IPS Kompetensi Dasar mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan melalui pendekatan learning community diperoleh data dimana pada masa pra siklus mencapai rata – rata 63,33 dan hanya 50 % siswa mencapai nilai 70 atau > 70. Padahal idealnya minimal harus mencapai 100% siswa mendapat 70 atau > 70..
2. Deskripsi Proses pembelajaran
Proses pembelajaran kondisi awal siswa kelas VII.1 SMPN 1 Tanjung pada mata pelajaran IPS tentang keragaman bentuk muka bumi , proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan kurang berhasil karena rata – rata kelas mencapai 63,33 dan hanya 50% siswa mencapai ketuntasan atau nilainya lebih dari 70.Padahal idealnya ketuntasan klasikal adalah 85% dan KKM harus 70.
B. Deskripsi Hasil Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) siklus I dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal 26 Nopember 2012 , pertemuan kedua tanggal 28 Nopember 2012 dan pertemuan ketiga tanggal 30 Nopember 2012.
Sebelum melaksanakan tindakan pembelajaran, dilakukan persiapan terakhir. Langkah awal dalam perencanaan adalah peneliti memeriksa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang telah disusun, dibaca ulang, mencermati setiap butir yang akan direncanakan.
Peneliti memeriksa skenario pembelajaran yang terdapat dalam RPP yang akan diimplementasikan melalui kegiatan pembelajaran dari kegiatan awal sampai kegiatan akhir.
a. Kegiatan Awal
Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal 26 Nopember 2012. Kegiatan awal dilaksanakan kurang lebih 10 menit, yaitu memberikan salam, memeriksa kehadiran siswa, mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran, memotivasi siswa, memberikan apersepsi untuk memusatkan perhatian siswa pada materi pembelajaran.Peneliti menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b. Kegiatan Inti
Kegiatan inti siklus I pertemuan pertama dilaksanakan selama 40 menit. Guru membentuk kelompok diskusi berdasarkanlokasi tempat duduk siswa, untuk melaksanakan diskusi sesuai permaslahan yang ada.Ketua kelompok mengambil lembar kerja siswa yang telah disiapkan untuk di diskusikan secara bersama – sama di dalam kelompok.
Guru mengawasi siswa yang sedang melakukan diskusi. Setelah kerja kelompok selesai, dilanjutkan dengan diskusi kelas untuk saling mencocokkan hasil kerjanya. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil diskusi dan kelompok lain memberikan tanggapan.
Setelah semua kelompok selesai presentasi, guru mengulas materi dan hasil kerja siswa. Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan dari kegiatan yang telah dilaksanakan.
c. Kegiatan Akhir
Guru memberikan saran dan tindak lanjut untuk pelajaran berikutnya. Guru memberi tugas pekerjaan rumah pada siswa untuk menyelasaikan yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
2. Pelaksanaan Tindakan
Siswa dengan bimbingan guru mengkaji dan menelaah masalah yang ada pada materi tentang keragaman bentuk – bentuk muka bumi, kemudian dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan pada lembar kerja siswa.
Siswa mengerjakan LKS, beberapa siswa melaporkan hasil kerjanya di depan kelas bergantian dan siswa lain yang belum maju memberikan tanggapan, sanggahan, pertanyaan dan pendapat yang berbeda kepada siswa yang sedang melaporkan hasil kerjanya.
Selama kegiatan pembelajaran yang berlangsung selama 3 kali pertemuan, semua kegiatan berjalan lancar dan tidak ada kendala yang menganggu proses belajar mengajar.

3. Hasil Pengamatan
a. Hasil Belajar
Hasil belajar pada siklus I terdapat kenaikan prestasi belajar berupa rata – rata kelas menjadi 69,89 dan sebanyak 65 % siswa memperoleh nilai tuntas. Nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi adalah 90.
b. Proses Pembelajaran
Dalam pembelajaran IPS siswa mulai tertarik untuk mengikuti diskusi walaupun masih ada yang bermain – main, pasif dalam diskusi.Dengan model pembelajaran learning community mulai ada perubahan prestasi belajar siswa kea rah peningkatan.
4. Refleksi
Dengan memperhatikan hasil pengamatan terhadap siswa diperoleh hal-hal sebagai berikut:
a. Dalam proses pembelajaran IPS di Kelas VII.1 terdapat peningkatan prestasi belajar dari nilai rata – rata 63,33 menjadi 69,89 dan jumlah siswa yang tuntas dari 50% menjadi 75%.
b. Tetap meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran learning community.
C. Deskripsi Hasil Siklus II
1. Perencanaan Tindakan
Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan pada tanggal 3, 5, dan 7 Desember 2012 Sebelum melaksanakan tindakan perbaikan, dilakukan persiapan terakhir. Langkah awal dalam perencanaan adalah peneliti memeriksa RPP yang telah disusun, dibaca ulang, mencermati setiap butirnya.
Yang tidak kalah pentingnya adalah semua perencanaan harus dimatangkan dan saran prasarana dipersiapkan dengan baik agar kegiatan PBM tidak menemukan hambatan yang dapat menganggu proses penyusunan PTK ini.
a. Kegiatan Awal
Kegiatan awal dilaksanakan kurang lebih 10 menit, yaitu memberikan salam, memeriksa kehadiran siswa, mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran, memotivasi siswa, memberikan apersepsi untuk memusatkan perhatian siswa pada materi pembelajaran.Peneliti menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b. Kegiatan Inti
Kegiatan inti siklus II pertemuan pertama dilaksanakan selama 40 menit. Guru membentuk kelompok diskusi berdasarkan lokasi tempat duduk siswa, untuk melaksanakan diskusi sesuai permaslahan yang ada.Ketua kelompok mengambil lembar kerja siswa yang telah disiapkan untuk di diskusikan secara bersama – sama di dalam kelompok.
Guru mengawasi siswa yang sedang melakukan diskusi. Setelah kerja kelompok selesai, dilanjutkan dengan diskusi kelas untuk saling mencocokkan hasil kerjanya. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil diskusi dan kelompok lain memberikan tanggapan.
Setelah semua kelompok selesai presentasi, guru mengulas materi dan hasil kerja siswa. Dengan bimbingan guru, siswa membuat kesimpulan dari kegiatan yang telah dilaksanakan.
c. Kegiatan Akhir
Guru memberikan saran dan tindak lanjut untuk pelajaran berikutnya. Guru memberi tugas pekerjaan rumah pada siswa untuk menyelasaikan yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
2. Pelaksanaan Tindakan
Siswa dengan bimbingan guru mengkaji dan menelaah masalah yang ada pada materi tentang keragaman bentuk – bentuk muka bumi, kemudian dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan pada lembar kerja siswa.
Siswa mengerjakan LKS, beberapa siswa melaporkan hasil kerjanya di depan kelas bergantian dan siswa lain yang belum maju memberikan tanggapan, sanggahan, pertanyaan dan pendapat yang berbeda kepada siswa yang sedang melaporkan hasil kerjanya.
Selama kegiatan pembelajaran yang berlangsung selama 3 kali pertemuan, semua kegiatan berjalan lancar dan tidak ada kendala yang menganggu proses belajar mengajar.
3. Hasil Pengamatan
a. Hasil Belajar
Hasil belajar pada siklus II terdapat kenaikan prestasi belajar berupa rata – rata kelas menjadi 83.3 dan sebanyak 90 % siswa memperoleh nilai tuntas. Nilai terendah adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 100
b. Proses Pembelajaran
Dalam pembelajaran IPS siswa sangat tertarik untuk mengikuti diskusi, siswa yang suka bermain – main tidak ada, siswa sangat aktif dalam diskusi.Dengan model pembelajaran learning community perubahan prestasi belajar siswa kea rah peningkatan sangat dirasakan.
4. Refleksi
Dengan memperhatikan hasil pengamatan terhadap siswa diperoleh hal-hal sebagai berikut:
c. Dalam proses pembelajaran IPS di Kelas VII.1 terdapat peningkatan prestasi belajar dari nilai rata – rata 69,89 menjadi 83,3 dan jumlah siswa yang tuntas dari 75% menjadi 90%.
d. Tetap meningkatkan prestasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran learning community.

BAB V
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Hasil pembelajaran kondisi awal IPS Kompetensi Dasar mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan melalui pendekatan learning community diperoleh data dimana pada masa prasiklus mencapai rata – rata 63,33 dan hanya 50 % siswa mencapai nilai 70 atau > 70. Padahal idealnya minimal harus mencapai 100% siswa mendapat 70 atau > 70..
2. Hasil belajar pada siklus I terdapat kenaikan prestasi belajar berupa rata – rata kelas menjadi 69,89 dan sebanyak 65 % siswa memperoleh nilai tuntas. Nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi adalah 90.
3. Hasil belajar pada siklus II terdapat kenaikan prestasi belajar berupa rata – rata kelas menjadi 83.3 dan sebanyak 90 % siswa memperoleh nilai tuntas. Nilai terendah adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 100
4. Karena dalam penelitian ini terjadi peningkatan prestasi belajar siswa , maka peneliti berkesimpulan bahwa model pembelajaran learning community sangat cocok digunakan dalam pembelajaran IPS.

B. SARAN – SARAN
1. Guru hendaknya selalu mencari dan menyesuaikan model pembelajaran dengan materi yang disampaikan, guru sebagai pendidik hendaklah juga memahami karakteristik dan kemampuan siswa, karena masing-masing siswa pada dasarnya mempunyai karakter dan kemampuan yang berbeda-beda.
2. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi guru dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pembelajaran IPS .

DAFTAR RUJUKAN
1. Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.
2. Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani. 2004. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD.
3. Saiful Rachman, Yoto, Syarif Suhartadi, Suparti. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah. Surabaya: SIC Bekerjasama Dengan Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur.
4. Mulyasa, E.. 2005. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
5. Sumadi. 2002. Prestasi dalam Belajar. Pustaka Widyamara : Jakarta.

PTK : Penerapan Pembelajaran Model STAD Dengan Variasi Kuis untuk meningkatkan Prestasi belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas IX A SMPN 1 Kayangan

Penerapan Pembelajaran Model STAD Dengan Variasi Kuis untuk meningkatkan Prestasi belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas IX A SMPN 1 Kayangan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu bagian dari mata pelajaran IPS Terpadu yang kurang diminati siswa dalam belajar IPS Terpadu adalah materi sejarah . Mayoritas siswa menolak dan menghindari materi sejarah, alasannya siswa menganggap bahan ajar sejarah itu sulit, banyak menghafal dan kurang menarik karena cara penyampaiannya banyak dilakukan dengan ceramah (cerita).. Untuk menyikapi permasalahan tersebut, Guru harus memiliki beragam kemampuan yang dapat menunjang tugasnya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu tuntutannya adalah memiliki kreasi dan daya inovatif dalam mengembangkan model-model pembelajaran yang menarik siswa. Sehingga pembelajaran yang semula dianggap sulit dan dianggap membosankan menjadi menarik. Tidak hanya menarik tetapi yang utama adalah mampu meningkatkan prestasi belajar siswa seperti yang tertuang dalam tuntutan kurikulum.
Menciptakan model pembelajaran yang menarik bagi siswa tidak mudah, perlu kecerrmatan dari guru dalam menentukan dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran yang akan diberikan (diajarkan) sehingga tercipta proses belajar mengajar yang efektif. Oleh karena itu, guru harus menguasai beberapa jenis model pembelajaran agar proses belajar mengajar berjalan lancar.
Berdasarkan pengalaman di lapangan, dalam pembelajaran IPS Terpadu khususnya materi sejarah persoalan belajar yang sering dijumpai adalah siswa sulit menerima materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini disebabkan karena siswa tidak menyukai materi pelajaran sejarah, pelajaran yang disampaikan menjemukan, sulit dipahami, banyak menghafal dan terkesan kurang menarik. Oleh karena itu semakin baik suatu model pembelajaran yang dipergunakan, maka semakin mudah tujuan pembelajaran dapat tercapai. dalam memberikan pelajaran. Model pembelajaran efektif digunakan dalam proses pembelajaran bergantung pada bermacam-macam faktor antara lain: tujuan yang akan dicapai, kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran, kemampuan siswa, besarnya kelompok yang akan diajar, waktu, dan fasilitas yang tersedia.
Mutu pendidikan khususnya pendidikan IPS , tentunya tidak bisa lepas dari tiga faktor, yaitu sekolah sebagai tempat terlaksananya pendidikan, guru sebagai pelaksana dan siswa sebagai peserta pendidikan. Ketiga faktor tersebut menjadi kurang berarti meskipun sudah disiapkan dengan baik, jika penyampaian materi pelajaran guru menggunakan metode atau cara yang kurang tepat. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka pada setiap akhir program pembelajaran dilakukan evaluasi. Salah satu hasil evaluasi tersebut adalah prestasi belajar siswa. Namun dewasa ini prestasi belajar yang diperoleh siswa terutama dalam mata pelajaran IPS Terpadu khususnya di SMP Negeri 1 Kayangan masih tergolong rendah.
Hal tersebut dapat dilihat dari hasil ulangan harian IPS Terpadu yang pertama pada kompetensi dasar 1.2 Mendeskripsikan Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia hanya mencapai rerata 57,8 dan hanya 50% siswa mencapai nilai 60 atau >60 . Padahal idealnya minimal harus mencapai 100% siswa mendapat 60 atau >60. Kondisi tersebut disebabkan oleh kenyataan sehari-hari yang menunjukkan bahwa siswa kelihatannya jenuh mengikuti pelajaran IPS . Pembelajaran sehari-hari menggunakan metode ceramah dan latihan-latihan soal secara individual, dan tidak ada interaksi antar siswa yang pandai, sedang, dan normal. Hal ini terbukti sebagian besar siswa mengeluh apabila diajak belajar IPS Terpadu . Sering jika diberi tugas tidak selesai tepat waktu, dan lebih suka bermain dan mengobrol, alasannya pelajaran IPS memusingkan dan lain-lain.

Menyikapi kondisi tersebut penulis sebagai guru IPS Terpadu kelas IX.A yang harus menyiapkan peserta didik menuju ujian akhir sekolah dan diharapkan mampu bersaing dalam mengikuti tes masuk SMA Negeri, selalu berusaha memperbaiki pembelajaran dengan mengkondisikan pembelajaran yang memudahkan, mengasyikkan, dan menyenangkan bagi siswa. Usaha tersebut akan diwujudkan dalam suatu penelitian tindakan kelas yang akan menerapkan pembelajaran STAD dengan variasi bermain kuis.
Model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Devision) adalah salah satu pembelajaran kooperatif yang dikembangkan berdasarkan teori belajar Kognitif-Konstruktivis yang diyakini oleh pencetusnya Vygotsky memiliki keunggulan yaitu fungsi mental yang lebih tinggi akan muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu. (Depag RI, 2004). STAD juga memiliki keunggulan bahwa siswa yang dikelompokkan secara heterogen berdasarkan kemampuan siswa terhadap Ilmu Pengetahuan Sosial akan terjadi interaksi yang positif dalam menyelesaikan masalah, seperti tutor sebaya dan lain-lain. Jika sebelumnya tidak ada interaksi antar individu, maka dalam STAD siswa dapat bekerja sama dalam menyelesaikan masalah sampai semua anggota kelompok dapat menyelesaikan masalah. Kelompok dikatakan tidak selesai jika ada anggotanya belum selesai.
Bermain kuis adalah permainan yang mengasyikkan bagi anak-anak usia sekolah dasar/setingkat SMP. Untuk itu pembelajaran dilanjutkan dengan bermain kuis antar kelompok agar pembelajaran IPS Terpadu yang dianggap membosankan akan berubah menjadi menyenangkan, mengasyikkan, dan akhirnya semangat belajar siswa meningkat serta hasil belajar /prestasi juga meningkat.
B. Perumusan Masalah
Untuk memberi batasan permasalahan agar lebih jelas dan terarah, maka perlu dirumuskan permasalahan yang akan dibahas, yaitu sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran model kooperatif STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) di Indonesia?
2. Apakah bermain kuis dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) di Indonesia?
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka dapat dikemukakan hipotesis tindakan
sebagai berikut:
1. Jika siswa belajar tentang materi Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia dengan model kooperatif STAD, maka prestasi belajar siswa akan meningkat.
2. Jika siswa belajar tentang materi Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia dengan bermain kuis, maka prestasi belajar siswa akan meningkat.

D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan dan mengetahui :
a. Pembelajaran model kooperatif STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia
b. Pembelajaran Bermain kuis dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia
E. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada :
a. Siswa, agar mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menarik, menyenangkan, dan mengasyikkan.
b. Guru, agar dapat menambah wawasan dan informasi tentang pilihan berbagai bentuk- bentuk strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran IPS Terpadu.
c. Lembaga pendidikan, diharapkan dapat memberikan informasi dalam peningkatan kualitas pendidikan.
d. Penelitian lanjutan, sebagai bahan rujukan dalam penelitian selanjutnya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran Kooperatif STAD
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis. Salah satu teori Vygotsky, yaitu tentang penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi akan muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu. Implikasi dari teori Vygotsky ini dapat berbentuk pembelajaran kooperatif. Penerapan model pembelajaran kooperatif ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL (contextual teaching and learning), yaitu tentang learning community (Depag RI, 2004).
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Student Teams Achievment Division (STAD) dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel : 2.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD
Fase Tingkah laku Guru
Fase 1
Menyampaikan kompetensi yang diharapkan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang diharapkan, dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok bekerja dan belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan diskusi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok –kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya hasil belajar individu maupun kelompok.

B. Bermain Kuis
Bermain kuis atau dikenal dengan strategi pembelajaran Team Quiz.
Langkah-langkah pembelajaran Team Quiz adalah sebagai berikut:
1. Guru membentuk tiga kelompok (disesuaikan jumlah siswa).
2. Membagi tugas secara bergantian untuk membuat soal, jawaban dan penilaian.
3. Buat skor masing-masing jawaban tiap kelompok (Depag. RI, 2001).
Team Quiz adalah suatu kegiatan tanya jawab antar kelompok. Dalam kegiatan bertanya dan menjawab akan terjadi proses belajar yang tidak membosankan. Keterampilan bertanya menjadi penting jika dihubungkan dengan pendapat yang mengatakan ”Berfikir itu sendiri adalah bertanya” (Hasibuan dan Moejiono, 2004).
Pengertian bertanya adalah ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenai. Respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong berfikir (Hasibuan dan Moejiono, 2004).
Dari pendapat dan pengertian tersebut, bertanya menunjukkan bahwa, baik yang bertanya maupun yang menjawab telah terjadi proses berfikir dari dirinya. Sedangkan berfikir merupakan proses belajar. Pemecahannya adalah mengajukan pertanyaan tentang semua informasi penting.
Di samping itu, pertanyaan-pertanyaan tentang fakta yang disampaikan dengan kata-kata sendiri, bukannya mengulang tepat seperti yang tertulis, membantu siswa mempelajari makna teks itu dan bukannya sekedar menghafalkannya (Mohamad Nur,1998). Pendapat ini mendukung bahwa memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat pertanyaan-pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari teman adalah sama dengan memberi kesempatan belajar kepada siswa, sehingga pembelajaran berpusat pada siswa atau student center.
C. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut.
. Adapaun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.” Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes yang relevan.
Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Penelitian berlangsung di kelas IX.A SMPN 1 Kayangan yang beralamat di Jalan Raya Pendidikan, desa Kayangan Kecamatan Kayangan Kab. Lombok Utara Propinsi Nusa Tenggara Barat.
B. Waktu Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2012/2013 selama 2 bulan dari tanggal 12 Nopeember 2012 sampai dengan 5 Januari 2013.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX.A Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berada di SMPN 1 Kayangan Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jumlah subyek penelitian 26 siswa yang terdiri dari 12 putra dan 14 putri. Kondisi kemampuan penguasaan materi IPS Terpadu sangat kurang karena hasil ulangan harian pada pembelajaran sebelumnya hanya mencapai rata-rata 57,8.
Siswa kelas IX.A sebagai subyek penelitian ini memiliki karakteristik yang heterogen. Heterogen baik dalam segi kemampuan intelegensi, motivasi belajar, latar belakang keluarga, maupun sifat dan wataknya. Dari segi watak ada beberapa siswa yang memiliki watak sulit diatur, sehingga kadang-kadang menyulitkan guru pada saat pembelajaran berlangsung. Namun secara umum memiliki kepribaduan yang cukup baik.
D. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani, 2005). Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana dinyatakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Yatim Riyanto, 2001) merupakan penelitian yang bersiklus, yang terdiri dari rencana, aksi, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara berulang.
Penelitian tindakan kelas ini menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievement Devisions) dengan variasi bermain kuis. Pembelajaran dengan kooperatif STAD memiliki keunggulan yang dapat mengatasi masalah yang ada. Karena dalam kooperatif STAD akan terjadi meningkatnya fungsi mental melalui percakapan dan interaksi lainnya, serta kerjasama antar siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen.
Begitu pula bermain kuis diyakini memiliki keunggulan menciptakan suasana pembelajaran yang mengasyikkan, karena berupa permainan tanya jawab antar kelompok. Dalam situasi demikian diharapkan siswa tidak akan mengantuk dan bosan belajar IPS Terpadu. Kegiatan bertanya dan menjawab adalah bentuk kegiatan berfikir, sedangkan belajar juga melalui proses berfikir.
Sebagaimana layaknya penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini akan dimulai dari siklus I yang pelaksanaannya melalui 4 (empat) tahap yaitu : perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Bagaimana pelaksanaan dari tahap-tahap tersebut dapat dijelaskan berikut ini:
1. Perencanaan
Perencanaan dibuat berawal dari permasalahan yang muncul di lapangan yaitu dari pengalaman peneliti sebagai guru di kelas IX.A SMPN 1 Kayangan. Permasalahan ini dapat disebut sebagai refleksi awal, yaitu hasil belajar IPS Terpadu yang selalu rendah terutama pada kompetensi dasar 1.2. Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia
Tindakan akan dilaksanakan sesuai dengan tahapan pembelajaran STAD, tetapi ada variasi dengan kegiatan kuis. Kuis dilaksanakan pada tahap unjuk kerja dari setiap kelompok. Jika pada pembelajaran STAD murni, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya, namun pada pembelajaran ini setiap kelompok memberikan pertanyaan kepada kelompok-kelompok lain. Untuk lebih konkritnya dapat diikuti langkah-langkah kegiatan pembelajaran berikut:
2. Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut
a. Siswa berkelompok dengan anggota 4/3 orang siswa yang heterogen kemampuannya.
b. Setiap kelompok bekerjasama membuat soal tentang Perang Dunia II beserta kunci jawabannya.
c. Setiap kelompok unjuk kerja dengan memberikan soalnya kepada anggota kelompok lain secara menyebar. Jika soalnya 4 maka pertanyaan tersebut harus dijawab oleh 4 kelompok.
Pada tahap pelaksanaan tindakan, dilaksanakan skenario pembelajaran sesuai perencanaan yang telah disusun pada tahap perencanaan di atas. Siklus I dilaksanakan selama 2 (dua) pertemuan atau dua kali 40 menit (80 menit). Untuk siklus berikutnya disesuaikan dengan perkembangan siklus I.
3. Observasi
Observasi dilakukan oleh tim observer yang terdiri dari 2 orang guru untuk mengetahui bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung. Beberapa kegiatan penting yang perlu diamati adalah :
a. Fase pembelajaran klasikal, berapa prosen siswa yang aktif: melihat, mendengar, bertanya, menjawab, dan mencatat. Pada fase ini observer menggunakan instrumen angket.
b. Fase pembelajaran kelompok, yang perlu diamati adalah bagaimana kegiatan masing-masing anggota kelompok dalam memainkan peranannya dalam kelompoknya, antara lain : kerja sama, berpendapat, semangat kerja, dan hasil kerja. Fase ini menggunakan instrumen angket.
c. Fase unjuk kerja tiap kelompok penanya, yang diamati adalah:
1) Bagi penanya dinilai : penampilan, kualitas soal, kualitas kunci jawaban, menilai jawaban.
2) Bagi penjawab dinilai : penampilan, kualitas jawaban, kerjasama, waktu. Pada fase ini digunakan instrumen angket.
3) Semua aktifitas pembelajaran yang positif maupun negatif perlu dicatat sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan siklus berikutnya.

4. Refleksi
Pada kegiatan refleksi ini, tim peneliti mengadakan pertemuan untuk membahas hasil observasi. Data yang terekam pada instrumen observasi dievaluasi dan diambil kesimpulan untuk membuat rencana pelaksanaan siklus II. Dari hasil pertemuan tim peneliti menyususn rencana dan mempersiapkan keperluan pembelajaran pada siklus II misalnya: LKS, dan instrumen observasi atau mungkin penataan ruangan dan peralatan lain yang diperlukan misalnya foto, dan lain-lain.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Perencanaan Tindakan I
Peneliti membentuk tim yang terdiri dari peneliti dan dua orang guru serta seorang pengambil gambar. Kemudian tim membahas segala kegiatan yang akan dilakukan pada kegiatan pembelajaran, antara lain:
1. Mempelajari langkah-langkah kegiatan pembelajaran beserta pembagian waktunya.
2. Mempelajari instrumen yang akan digunakan merekam segala kejadian dan cara pengisiannya.
3. Mempelajari interaksi antar kelompok pada saat kegiatan kuis.
4. Mempelajari kode anggota kelompok beserta kartu anggota kelompok dan tugas masing-masing kelompok.
5. Pembagian tugas masing-masing anggota tim
6. Setelah semua anggota tim memahami berbagai kegiatan yang akan dilakukan, pertemuan diakhiri.
Sehari sebelum melakukan tindakan tepatnya hari senin tanggal 26 Sepetember 2012, peneliti/ guru kelas IXA memberi pengarahan kepada siswa bahwa besok akan diadakan pembelajaran STAD atau belajar kelompok. Kemudian peneliti membentuk kelompok menjadi tujuh kelompok, memberi nama kelompok sesuai tema belajar seperti: Seinendan, Keibondan, Fujinkai, Heiho, Syusyintai, Jawa Hokokai, dan PETA. Nama-nama kelompok ini diambil agar menarik dan mengingat bagian dari isi materi pembelajaran..
B. Aktifitas Pembelajaran Siklus I
(Pelaksanaan Tindakan I)
Proses pelaksanaan tindakan I terbagi menjadi dua kali pertemuan, masing-masing pertemuan berlangsung selama 2 x 40 menit. Secara lebih rinci proses pelaksanaan tindakan I pada tiap-tiap pertemuan sebagai berikut:
1. Pertemuan Pertama (2 x 40 menit)
Dilaksanakan Pada hari Selasa, tanggal 30 Nopember 2012. Proses tindakan pada pertemuan pertama difokuskan pada materi pembelajaran Perang Dunia I. Tahap Perang Dunia I diajarkan bertujuan untuk mengarahkan pandangan dan memberikan kerangka berpikir terhadap siswa sehingga objek yang diceritakan terindentifikasi dengan jelas benang merahnya dengan Perang Dunia II dan Pendudukan Jepang di Indonesia. Terkait dengan tujuan tersebut maka pembelajaran pada tindakan I Pelaksanaan tindakan diawali dengan pembelajaran klasikal, di mana peneliti/(Guru) membuka pembelajaran dengan berdoa dan menjelaskan bahwa pada hari ini kita belajar IPS Terpadu materi sejarah ditemani oleh dua orang observer yaitu Ibu Erlis Nurhayati, S.Pd dan Bapak Herman, S.Pd, sebagai apersepsi untuk menarik perhatian siswa guru menayangkan gambar “Perang Dunia”, kemudian guru menanyakan: ”Gambar apakah ini anak-anak?”. Semua siswa menjawab ”Perang”. Kembali guru bertanya: ”Apakah arti perang itu ?”. 4 orang siswa menjawab ”pertempuran antar negara”. 5 orang siswa menjawab “orang yang berjuang ” 3 orang siswa menjawab “ orang yang bertempur” 2 orang siswa menjawab “tentara yang bertempur dengan senjata” 4 orang siswa menjawab “orang yang melawan penjajah”. Semua jawaban siswa ditulis papan tulis oleh guru. Kemudian guru bersama siswa menyimpulkan arti “perang” Perang adalah permusuhan atau pertempuran antara dua negara/ lebih (bangsa, agama, suku, dsb) dengan menggunakan kekuatan senjata
Sesuai dengan rencana pembelajaran, waktu yang disediakan untuk kegiatan klasikal yaitu 15 menit tepat selesai. Pada kegiatan ini dapat dijelaskan hasil pengamatan dari pengamat I dan II sebagai berikut:

Tabel : 4.2 Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus I
No. Nama Kegiatan Jumlah Siswa yang Melakukan Prosentase Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.
Melihat
Mendengar
Mencatat
Bertanya
Menjawab
25
26
-
-
20
96,15
100
0
0
76,93 Jumlah siswa 26
Prosentase= jumlah yang melakukan : jumlah yang hadir x 100
Jumlah 296,15
Rata-rata = 296,15 : 5 = 54,61 %

Tabel 4.2 menunjukkan hasil pengamatan pengamat II dengan rerata 54,61%.
Dari data di atas belum mencapai target yang diharapkan yaitu 60-70%. Kegiatan bertanya dan mencatat masih belum ada sama sekali. Untuk siklus II perlu ada motivasi untuk melakukan kegiatan bertanya dan mencatat. Pada kegiatan klasikal pengamat menemukan beberapa temuan antara lain:
a. Seorang siswa bernama Adin memukul-mukul bangku.
b. Seorang siswa bernama Riki melamun sambil memainkan kukunya.
Dari beberapa temuan tadi disarankan agar pada kegiatan klasikal berikutnya semua siswa diberi media gambar seperti yang dipakai oleh guru sehingga semua siswa aktif belajar.
Kemudian dilanjutkan kegiatan membentuk kelompok sesuai pengarahan guru sebelumnya. Masing-masing ketua kelompok membagikan kartu identitas kepada anggotanya. Siswa dengan sendirinya mengelompok sesuai dengan nama kelompok dan kartu identitasnya. Setelah semua siswa duduk tenang pada kelompok masing-masing, guru memberi pengarahan tugas kelompok, yaitu setiap siswa membuat satu soal beserta jawabannya. Soal dan jawaban yang dibuat disesuaikan dengan Kompetensi Dasar yang dibagi dalam kelompoknya. Guru memberi pengarahan bahwa, setiap anggota kelompok mempunyai tanggungjawab membuat satu soal dan jawabannya. Namun, jika ada anggota yang kesulitan, anggota lain harus membantu mengajari sampai berhasil. Setelah pengarahan guru membagikan lembar kegiatan siswa kepada setiap siswa. Selama kegiatan kelompok berjalan, guru berkeliling sambil memberi bimbingan kepada kelompok yang kesulitan. Sedangkan pengamat mengamati kerja kelompok.
Hasil pengamatan kegiatan kelompok dari pengamat disampaikan sebagai berikut:
Tabel : 4.3 Hasil Pengamatan Belajar Kelompok Siklus I
No Kegiatan Kelompok Jumlah Anggota
Jumlah/
Rerata
A B C D E F G

1.
2.
3.
4.
Kerjasama
Berpendapat
Semangat
Hasil Kerja
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
1
4
4
4
4
4
4
3
1
3
3
3
1
3
3
26
18
26
26
Prosentase 100 100 93,75 81,25 100 83,33 83,33 91,66 %

Data di atas menunjukkan nilai yang sangat tinggi yaitu nilai rerata 91,66%, jauh di atas yang diharapkan yaitu 70-80 %. Pada kegiatan kelompok ini memang hampir semua siswa aktif melakukan kegiatan belajar sesuai tugasnya masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan kuis atau bertanya menjawab pada pertemuan kedua
Pertemuan kedua (2 x 40 menit)
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 2012, proses pelaksanaan tindakan I pertemuan kedua adalah lanjutan pertemuan satu. Jika pertemuan I proses yang berlangsung adalah kegiatan pembelajaran model kooperatif STAD, pada pertemuan kedua adalah proses bermain kuis
Kegiatan utama yang dilakukan siswa pada pertemuan kedua ini adalah bertanya jawab melalui bermain kuis.
Dalam kegiatan bertanya dan menjawab setiap kelompok maju ke depan kelas untuk menanyakan soal-soalnya kepada kelompok penjawab. Kelompok penjawab berasal dari beberapa kelompok yang berbeda duduk di bangku depan yang sudah disediakan. Kegiatan kuis berjalan dengan lancar. Setiap individu baik dari kelompok penanya maupun kelompok penjawab telah melaksanakan tugasnya masing-masing.

Hasil observasi dari pengamat yang mengamati kelompok penanya dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel : 4. 4 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penanya Siklus I
No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. A
B
C
D
F
G
H 97,05
97,05
98,52
61,76
57,53
94,11
90,19
Rerata 85,17

Data kegiatan kuis kelompok penanya pada tabel tersebut mencapai rerata 85,17%. Tercapainya rerata 85,17% pada kegiatan kuis melalui observasi kelompok penanya telah mencapai jauh di atas yang diharapkan yaitu 60-70%. Sedangkan hasil observasi kegiatan penjawab dapat dilaporkan sebagai berikut:
Tabel : 4. 5 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penjawab Siklus I
No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. I
II
III
IV
V
VI
VII 86,53
78,84
75,00
61,53
67,30
79,48
76,92
Rerata 64,47

Tercapainya rerata 64,47% pada kegiatan kuis melalui observasi kelompok penjawab telah mencapai target yang diharapkan yaitu 60-70%. Apabila diambil rerata dari kelompok penanya dan penjawab dapat dilihat sebagai berikut:
( 85,17% + 64,47% ) : 2 = 74,82 %
Maka dapat diambil kesimpulan sementara bahwa proses pembelajaran melalui kegiatan kuis telah mencapai target yang telah ditentukan, bahkan mencapai di atas target yang diharapkan.
Adapun hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilaporkan sebagai berikut:
Ada dua orang siswa yang tidak hadir pada saat evaluasi hasil belajar karena sakit. Sehingga jumlah siswa yang hadir 24 siswa. 16 siswa telah mencapai ketuntasan belajar atau 66,66% telah mencapai nilai 60 – >60. Masih ada 8 siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar atau 33,33% masih mendapat nilai 50% siswa belum berhasil menyelesaikan dengan benar. Maka diperlukan penjelasan ulang atau remidial klasikal tentang soal nomor 9 dan 10.
Setelah seluruh kegiatan siklus II selesai maka dilanjutkan dengan pertemuan tim peneliti untuk merefleksi kegiatan siklus II dan dipakai pedoman untuk penyusunan rencana siklus III.

D. Aktifitas Pembelajaran Siklus III (Tindakan III)
Perencanaan Tindakan III
Masalah mendasar yang terdapat pada tindakan II, adalah masalah efisiensi waktu pada saat pembelajaran klasikal dan kualitas pertanyaan siswa kurang berbobot sehingga belum fokus kepada indikator pencapaian kompetensi. Bertitik tolak dari masalah yang ditemukan pada tindakan II tersebut, peneliti merencanakan tindakan selanjutnya. Pembelajaran tindakan III ini untuk mempertajam serta mempertinggi pencapaian indikator yang ditentukan. Pelaksanaan Tindakan III ini pada dasarnya sama dengan tindakan I dan II. Tindakan III ini difokuskan pembelajaran klasikal, efisiensi pemanfaatan waktu dan cara menganalisis dan mengidentifikasi /media gambar. Penggunaan media gambar pada tindakan II, belum dapat meningkatkan kemampuan siswa yang fokus pada indikator dalam pembelajaran klasikal maka peneliti merencanakan untuk mengganti pembelajaran klasikal berpindah ke pembelajaran kelompok, sehingga diperlukan penataan tempat duduk secara kelompok, yang bertujuan untuk menghemat waktu. Selain itu peneliti memberikan cara yang efektif mengidentifikasi dan menganalisis media gambar dengan teori 5W + 1H, sehingga efektif dalam pembelajaran dan mudah memahami materi pelajaran dan mudah membuat pertanyaan, karena materi pelajaran semakin sulit yang membutuhkan kemampuan analisa tingkat tinggi
Sebelum pelaksanaan siklus III dimulai peneliti mempersiapkan:
1. Media/Gambar untuk peneliti sendiri yaitu gambar tokoh-tokoh pejuang pergerakan kebangsaan Indonesia yang melawan penjajahan Jepang. Sedangkan untuk para siswa adalah beberapa gambar seperti: pejuang melalui organisasi bikinan Jepang, tokoh pejuang organisasi Islam, tokoh pejuang gerakan bawah tanah, tokoh-tokoh pejuang melalui perlawanan bersenjata dari berbagai daerah.
2. Beberapa instrumen untuk observasi kegiatan pembelajaran klasikal, kelompok, kuis, dan soal-soal tes untuk mengetahui hasil belajar.
3. Lembar kegiatan siswa yang bergambar baik kelompok, kuis, maupun pos tes.

Proses Pelaksanaan Tindakan III
Pertemuan ke lima (2 x 40 menit) Tindakan III
Pertemuan kelima Siklus III dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2012 .materi pokok pembahasan adalah Bentuk-bentuk Perlawanan Rakyat dan Pergerakan Kebangsaan Indonesia melalui MIAI, Gerakan Bawah Tanah, Perjuangan Bersenjata.
Untuk mengetahui hasil pengamatan kegiatan klasikal dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel : 4.12 Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus III
No. Nama Kegiatan Jumlah Siswa Aktif Prosentase Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.
Melihat
Mendengar
Mencatat
Bertanya
Menjawab
26
26
26
10
22
100
100
100
38,46
84,61 Jumlah siswa 26
Prosentase= jumlah yang melakukan : jumlah yang hadir x 100
Rerata : 423,07 : 5 = 84,61%

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa dari hasil pengamatan pembelajaran klasikal siklus III telah berhasil mencapai rerata 84,61%. Keberhasilan tersebut telah dapat memenuhi target yang ditentukan yaitu 60% -70% dan mengalami kemajuan yang cukup signifikan dibandingkan siklus I yang baru mencapai 54,22% dan siklus II telah mencapai 66,15%. Hasil catatan bebas dari Pengamat II menjelaskan: ” Guru menerangkan secara klasikal setelah itu muncul pertanyaan-pertanyaan dari siswa sehingga terjadi timbal balik dalam proses pembelajaran. Karena adanya media/gambar dan alat bantu belajar untuk siswa, maka yang biasanya tidak aktif bertanya menjadi aktif bertanya dan mau berusaha menyelesaikan tugasnya, seperti siswa yang bernama: Adin, Brata, Rizal, Rico, Riki, dan Andre. Peningkatan proses pembelajaran klasikal tersebut disebabkan semakin banyaknya pertanyaan dari siswa dan peningkatan kegiatan mencatat siswa, juga kegiatan menjawab. Ada 22 siswa yang aktif menjawab pertanyaan guru tentang bentuk-bentuk perlawanan rakyat dan pergerakan kebangsaan Indonesia. Sedangkan ada beberapa siswa yang tidak ikut menjawab antara lain: Adin memanggil-manggil temannya, Rangga dan Rizal berbicara sendiri. Gejala negatif yang muncul perlu direfleksi dengan bimbingan dan penyuluhan.
Sedangkan hasil pengamatan proses pembelajaran kelompok dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel : 4.13 Hasil Pengamatan Belajar Kelompok Siklus III
B Kegiatan Kelompok Jumlah Anggota
Jumlah
Rerata
A C D E F G

1.
2.
3.
4.
Kerjasama
Berpendapat
Semangat
Hasil Kerja
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
2
3
3
3
3
3
3
26
24
26
26
Prosentase 93,75 100 100 100 100 91,66 100 97,91

Tabel di atas menunjukkan angka rerata dari belajar kelompok sebesar 97,91%. Sedangkan pada siklus II belajar kelompok telah menunjukkan rerata 92,85%. Maka terdapat peningkatan 5,06% dari siklus II. Peningkatan kegiatan kelompok ini disebabkan karena hampir semua kelompok mencapai keaktifan 100% kecuali kelompok A dan F karena masing-masing kelompok tersebut ada satu siswa yang kurang berpendapat dalam diskusi kelompok. Hasil observasi tersebut telah mencapai jauh di atas target yang ditentukan.
Pertemuan ke enam (2 x 40 menit) Tindakan III
Pelaksanaan tindakan III pertemuan ke enam dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2012. Proses pembelajaran bermain kuis. Ada sedikit perbedaan pada saat kegiatan kuis siklus II dan siklus III. Pada siklus II penanya menyampaikan soal dengan tulisan di papan tulis dan bebas jenis pertanyaanya tetapi pada siklus III penanya menyampaikan soal dengan mengacu pada gambar dengan analisis 5W + 1 H . Begitu juga indikator penilaian pada instrumen juga ada perubahan sedikit pada aspek kualitas pertanyaan pada siklus II ada penilaian analisa gambar dengan pertanyaan bebas pada siklus III diganti penilaian analisa gambar Untuk mengetahui hasil observasi pengamat I sebagai pengamat kelompok penanya dalam kegiatan kuis dapat dilihat tabel berikut ini:
Tabel : 4. 14 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penanya Siklus III
No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. A
B
C
D
F
G
H 97,05
98,52
100
79,14
97,05
80,39
100
Rerata 93,16

Tabel 4.14 menjelaskan hasil observasi kegiatan kelompok penanya pada kegiatan kuis. Rerata yang diperoleh adalah 93,16%, berarti terjadi peningkatan kegiatan dari siklus II yang baru mencapai 89,00%, sehingga peningkatan yang terjadi adalah 4,16%. Tercapainya rerata 93,16% telah memenuhi jauh di atas target yang ditentukan yaitu 70% – 80%. Untuk lebih mengetahui kegiatan kuis seluruhnya dapat dilihat tabel berikut ini:
Tabel: 4.15 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penjawab Siklus III
No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. I
II
III
IV
V
VI
VII 100
98,07
100
75
94,23
89,74
89,74
Rerata 92,39

Hasil pengamatan kelompok penjawab dapat diperoleh rerata sebesar 92,39%. Terjadi peningkatan 9,06% dari siklus II yang baru mencapai rerata 83,33%. Jika diambil rerata dari kegiatan kelompok penanya dan kelompok penjawab, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
93,16 + 92,39 = 185, : 2 = 92,77% terdapat kenaikan dari siklus II ( 86,16%)
Pada saat kegiatan kuis semua aktif belajar dan melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan. Bahkan pada saat bel istirahat berbunyi para siswa ingin tetap meneruskan kuis. Padahal biasanya meminta segera istirahat.” Dari beberapa peningkatan proses pembelajaran tersebut, bagaimana dampaknya terhadap hasil belajar?. Maka dapat dilihat hasil belajar siswa pada siklus III mencapai rerata 79,61% dengan ketuntasan belajar 100%. Dengan demikian indikator keberhasilan telah dicapai yaitu 100% siswa mengalami ketuntasan belajar. Namun demikian masih ada dua soal yaitu soal nomor 7 dan nomor 9 masih ada 15 siswa yang belum bisa menyelesaikan dengan benar. Karena ada >50% siswa yang belum menguasai maka perlu ditindaklanjuti dengan penjelasan ulang secara klasikal.
E. Pembahasan Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan siswa dan bagaimana pengaruh kegiatan tersebut terhadap peningkatan proses pembelajaran maupun hasil belajar siswa. Untuk lebih jelasnya dapat diikuti pembahasan berikut ini.
Penelitian ini berangkat dari permasalahan di kelas IXA SMPN 1 Kayangan, yaitu siswa tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran IPS Terpadu dan berakibat hasil belajar tidak mencapai ketuntasan belajar. Kondisi awal hasil belajar yang dicapai hanya 50% siswa yang tuntas mencapai nilai 60 – >60 dengan rerata 57,8. Setelah dilakukan tindakan oleh guru yang dilakukan oleh siswa berupa belajar klasikal dan kelompok model kooperatif STAD yang dilakukan melalui tiga siklus dan hasil pengamatan menunjukkan peningkatan dari siklus ke siklus yang dapat ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

Gambar: 4.1 Peningkatan Pembelajaran klasikal Siklus I, II, dan III
Gambar di atas menunjukkan data hasil pengamatan pembelajaran klasikal dari siklus I mencapai 54,22%, siklus II mencapai 66,15%, dan siklus III mencapai 84,61%. Peningkatan tersebut menunjukkan peningkatan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS Terpadu. Untuk mengetahui gambaran peningkatan proses pembelajaran melalui Kooperatif STAD dapat dilihat gambar grafik berikut ini:

Gambar: 4.2 Peningkatan Pembelajaran Kooperatif STAD Siklus I, II, dan Siklus III

Gambar di atas menunjukkan data hasil pengamatan pembelajaran kooperatif STAD dari siklus I mencapai 91,66%, siklus II mencapai 92,85%, dan siklus III mencapai 97,91%. Peningkatan tersebut menunjukkan peningkatan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS Terpadu. Dari dua gambar tersebut membuktikan bahwa belajar klasikal dan Kooperatif STAD dapat meningkatkan proses pembelajaran dan meningkatkan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS Terpadu . Maka dari rumusan masalah pertama yang diajukan yaitu: Bagaimana pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang Perang Dunia II lebih bersemangat ? dapat terjawab dengan data di atas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan Model Kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia.
Kemudian bagaimana pengaruh kegiatan kuis terhadap peningkatan proses pembelajaran IPS Terpadu tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia, dapat dilihat melalui gambar berikut ini:

Gambar: 4.3 Peningkatan Pembelajaran Melalui Kuis Siklus I, II, dan III
Gambar di atas menunjukkan data hasil pengamatan pembelajaran melalui kegiatan kuis dari siklus I mencapai 74,82%, siklus II mencapai 86,16%, dan siklus III mencapai 92,77%. Peningkatan tersebut menunjukkan peningkatan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS Terpadu melalui kuis. Dari gambar grafik tersebut membuktikan bahwa belajar melalui Kuis dapat meningkatkan proses pembelajaran dan meningkatkan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS Terpadu. Maka dari rumusan masalah kedua yang diajukan yaitu: Bagaimanakah bermain Kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia lebih bersemangat ? dapat terjawab dengan data di atas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar IPS Terpadu dengan Bermain Kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia bersemangat.
Dengan terjawabnya kedua rumusan masalah yang diajukan maka kedua hipotesis tindakan yang diajukan pun dapat diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa baik secara teori maupun pengalaman di lapangan belajar melalui Model Kooperatif STAD dan Permainan Kuis dapat membantu memecahkan masalah dalam pembelajaran IPS Terpadu khususnya materi tentang Perang Dunia . Masalah pembelajaran tersebut dapat berupa masalah hasil belajar menurun, motivasi maupun semangat belajar yang kurang.
Sebagai dampak positif dari peningkatan proses pembelajaran, adalah meningkatnya hasil belajar hingga mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan. Peningkatan hasil belajar tersebut dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini:

Gambar: 4.4 Peningkatan Rerata & Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I, II, III
Grafik tersebut menunjukkan peningkatan rerata hasil belajar yang diikuti oleh ketuntasan belajar. Siklus I dicapai rerata 65 dan siswa tuntas belajar 66,66%, Siklus II dicapai rerata 72,3 dan siswa tuntas belajar 76,92%, Siklus III dicapai rerata 79,61 dan siswa tuntas belajar 100%, Karena ketuntasan belajar telah mencapai 100% mendapat nilai 60 – > 60 maka target yang ditentukan telah dicapai.
Perkembangan kemajuan yang dicapai dalam proses pembelajaran dan hasil belajar dalam penelitian tindakan kelas ini mulai dari siklus I sampai dengan siklus III dapat disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel: 4.17 Rekapitulasi Peningkatan Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar
No. Proses Pembelajaran/Hasil Belajar Kondisi
Awal Kemajuan yang dicapai Kenaikan
SI-SII
SII-SIII**)
Siklus
I Siklus
II Siklus III

1.
2.
3.
4.
5.
Klasikal
Kooperatif STAD
Kuis
Hasil Belajar(R*)
Ketuntasan Belajar
-
-
-
57,80
50%
54,22%
91,66%
74,82%
65,00
66,66%
66,15%
92,85%
86,16%
72,30
76,92%
84,61%
97,91%
92,77%
79,61
100%
11,93/18,46
1,19/5,06
11,34/6,61
7,2/7,3/7,31
16,66/10,26/23,08
Keterangan: *) Rerata
**) Siklus I, Siklus II, Siklus III
Rekapitulasi peningkatan proses pembelajaran dan hasil belajar pada tabel 4.17 dapat ditunjukkan kemajuan-kemajuan yang dicapai dari seluruh kegiatan mulai dari siklus I, siklus II, dan siklus III. Pada pembelajaran klasikal selain mengalami peningkatan dari siklus ke siklus, kenaikan itu sendiri juga mengalami peningkatan yaitu dari 11,93 menjadi 18,46. Begitu juga pada kegiatan kelompok kooperatif STAD, dari kenaikan 1,19 menjadi 5,06.
Pembelajaran kuis mengalami peningkatan dari siklus ke siklus, namun kenaikannya turun dari 11,34 menjadi 6,61. Hal ini terjadi mungkin karena pelaksanaan penelitian ini pada saat siswa belajar pada jam terakhir, sedangkan kuis banyak memerlukan kegiatan fisik, sehingga terjadi penurunan.
Hasil belajar terjadi kenaikan dari siklus ke siklus dan terjadi peningkatan kemajuan dari kondisi semula ke siklus I adalah 7,2, dari siklus I ke siklus II 7,3 dan dari siklus II ke siklus III 7,31. Peningkatan kenaikan memang sangat tipis, namun karena kompetensi dasar yang harus dicapai juga semakin sulit maka terjadinya kenaikan tersebut juga cukup berarti.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Hasil analisis data dan pembahasan dapat menunjukkan beberapa kemajuan yang dicapaiselama pembelajaran baik melalui pembelajaran klasikal, model kooperatif STAD, bermain kuis, maupun hasil belajar. Maka hasil penelitian tindakan kelas ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pembelajaran model kooperatif STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia
2. Bermain kuis dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa tentang Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia
Beberapa temuan lain yang diperoleh adalah munculnya kreatifitas siswa dalam membuat soal dan jawabannya, banyaknya pertanyaan yang diajukan siswa, adanya tanggung jawab menyelesaikan tugas, hilangnya keluhan bosan, bahkan siswa lebih senang menyelesaikan tugas daripada beristirahat.
Hasil penelitian tindakan kelas ini hanya berlaku pada kelas IXA SMPN 1 Kayangan Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara dengan Kompetensi Dasar tentang ” Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia” pada Mata Pelajaran IPS Terpadu.
B. Saran-saran
Berdasarkan beberapa kemajuan yang dicapai dan hasil simpulan penelitian ini, maka perlu disampaikan beberapa saran yang berkaitan dengan pemanfaatan hasil penelitian tindakan kelas yang menerapkan pembelajaran Model Kooperatif STAD dengan variasi KUIS. Beberapa saran yang perlu disampaikan adalah:
1. Bagi teman-teman guru, untuk mengatasi permasalahan pembelajaran IPS Terpadu yang cenderung tidak disukai oleh siswa , maka sebagai alternatif penyelesaiannya adalah menerapkan model kooperatif STAD.
2. Juga untuk teman-teman guru, untuk menerapkan Strategi pembelajaran kuis seperti pada penelitian ini diperlukan persiapan yang matang, terutama pada saat penilaian kelompok penjawab diperlukan bantuan dari siswa yang pandai untuk membantu guru mengerjakan soal-soal yang dibuat oleh temannya.
3. Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian lanjutan sesuai dengan penelitian ini juga disarankan agar membuat persiapan yang lebih sempurna terutama dalam mempersiapkan instrumen pengamatan beserta rubrik-rubrik yang jelas pada saat kegiatan kuis.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,Suharsimi & Suharjono & Supardi. 2006, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Agama RI. 2001. Bahan Penataran ( Modul Metodologi Pendidikan Agama Islam) Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Hasibuan & Mujiono. 2004. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nur, Mohammad. 1998. Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya: PPS IKIP Surabaya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta: Cemerlang.
Wardani, I.G.A.K. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas terbuka Departemen Pendidikan Nasional.

Riyanto, Yatim. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Penerbit SIC.

Yuwono, Trisno & Abdullah Pius. 1994. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Praktis. Surabaya: Arkola.

Lampiran: I
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Kelas / Semester IX/ I
Waktu 12 x 40 menit ( 6 x pertemuan )

Standar Kompetensi 1. Memahami kondisi perkembangan negara di dunia
Kompetensi dasar 1.2 Mendeskrepsikan Perang Dunia II (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia
Materi Pokok Perang Dunia II
Indikator

• Menjelaskan sebab-sebab terjadinya Perang Dunia II
• Menjelaskan latar belakang lahirnya negara-negara fasis menjelang Perang Dunia II
• Menyebutkan blok-blok yang bertikai dalam Perang Dunia II
• Menjelaskan isi perjanjian yang mengakhiri Perang Dunia II
• Menjelaskan dampak Perang Dunia II diberbagai bidang
• Menyebutkan negara-negara pemenang Perang Dunia II
• Menjelaskan peristiwa yang mengawali Perang Dunia II di Asia Pasifik
• Mengidentifikasi daerah-daerah yang diduduki Jepang
• Menjelaskan penyebab Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu
• Menjelaskan strategi yang dilakukan Jepang untuk menarik simpati bangsa Indonesia
• Mengidentifikasi Perang Dunia II di Asia Pasifik serta pendudukan militer Jepang di Indonesia
o Menjelaskan pengaruh kebijakan pemerintah pendudukan Jepang terhadap kehidupan ekonomi,sosial dan
o pergerakan kebangsaan Indonesia
o Mendeskripsikan bentuk-bentuk perlawanan rakyat dan pergerakan kebangsaan Indonesia di berbagai daerah pada masa pendudukan Jepang
Tujuan •
Sumber / Alat / Bahan Belajar -
Lampiran 2
Pembagian Kelompok Model Kooperatif STAD

No. Nama Siswa Nilai
UH I Nama Kelompok Nama Anggota Kelompok Nilai
UH I Kode
1. Sarah 75
Sarah 75 A1
2. Novia 75 Budi 60 A2
3. Rofiah 75 Isniah 60 A3
4. Lia 72 Rico 22 A4
5. Rani 70 Novia 75 B1
6. Rohmah 65 Ardi 52 B2
7. Rangga 62 Bayu 39 B3
8. Yoga 62 Brata 40 B4
9. Hanif 60 Rofiah 75 C1
10. Rizal 60 Andre 60 C2
11. Andre 60 Riki 49 C3
12. Yulio 60 Wulan 57 C4
13. Budi 60 Rani 70 D1
14. Adin 60 Adin 60 D2
15. Isniah 60 Putri 50 D3
16. Aprisal 60 Anam 57 D4
17. Daniel 60
Rohmah 65 E1
18. Anam 57 Yulio 60 E2
19. Wulan 57 Aprisal 60 E3
20. Ardi 52 Titin 50 E4
21. Titin 50 Rangga 62 F1
22. Putri 50 Rizal 60 F2
23. Riki 49 Daniel 60 F3
24. Brata 40
Lia 72 G1
25. Bayu 30 Yoga 62 G2
26. Rico 22 Hanif 60 G3

Lampiran 3
Instrumen Penelitian
a. Instrumen Observasi Proses Pembelajaran
1). Intrumen Observasi Pembelajaran Klasikal
No. Nama Kegiatan Jumlah Siswa yang Melakukan Prosentase Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.
Melihat
Mendengar
Mencatat
Bertanya
Menjawab
Jumlah siswa 26
Prosentase= jumlah yang melakukan : jumlah yang hadir x 100

2). Instrumen Observasi Pembelajaran Kelompok
Kelompok : ………………………

No. Kegiatan Kelompok Jumlah Anggota Prosentase Keterangan

1.
2.
3.
4.

Kerjasama
Berpendapat
Semangat Kerja
Hasil Kerja Jumlah yang aktif Jumlah anggota x 100
Jumlah

3). Instrumen Observasi Kinerja Kelompok Penanya Siklus I
Kelompok :…………………..

No Kode Nama Siswa Kegiatan yang dinilai Nilai Keterangan
1 2 3 4 5
1.
2.
3.
4. 1. Penampilan
2. Kualitas soal
3. Kualitas Jawaban
4. Menilai jawaban
5. Kerjasama

Bahan Ajar kelas IX

BAHAN AJAR
TEMA: UANG
STANDAR KOMPETENSI
4. Memahami lembaga keuangan dan perdagangan internasional
KOMPETENSI DASAR:
4.1 Mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan
4.2 Mendeskripsikan perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.
MATERI
1. Uang dan lembaga keuangan
2. Perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia

INDIKATOR
1. Mengidentifikasi syarat- syarat uang.
2. Mendeskripsikan tahap- tahap penggunaan uang dari masa ke masa.
3. Mengidentifikasi syarat suatu benda dapat dijadikan uang.
4. Memberi contoh uang barang.
5. Menganalisa kelemahan uang barang.
6. Memberi contoh uang logam yang dipakai pada masa uang logam
7. Menganalisa kelemahan uang logam.
8. Mengidentifikasi jenis uang.
9. Membedakan uang giral dengan uang kartal.
10. Mendeskripsikan fungsi uang.
11. Memberi contoh fungsi uang.
12. Menggolongkan bentuk- bentuk uang giral
13. Menggolongkan nilai mata uag.
14. Menghitung kurs rupiah ke kurs asing.
15. Mengidentifikasi asas perbankan Indonesia.
16. Mengidentifikasi fungsi perbankan Indonesia.
17. Mengidentifikasi tujuan perbankan Indonesia.
18. Menggolongkan jenis- jenis bank di Indonesia.
19. Mengidentifikasi tugas bank.
20. Mengidentifikasi tugas BPR
21. Mengidentifikasi produk perbankan di Indonesia.
22. Menggolongkankan jenis lembaga keuangan bukan bank di Indonesia.
23. Mengidentifikasi peranan/ fungsi lembaga keuangan bukan bank bagi masyarakat.
24. Memberi contoh lembaga keuangan bukan bank.
25. Melakukan pengamatan produk- produk yang bisa digadaikan.

WACANA
A. UANG

Amati gambar di atas dan identifikasikan (pengertian dan kegunaan serta jenisnya)
1. Tahap-tahap penggunaan uang dari jaman ke jaman:
a. Masa barter.
b. Masa ang barang.
c. Masa ung logam.
d. Masa uang kerts.
e. Masa uang Gial.
2. Syarat- syarat uang. Nilainya stabil.
a. Tahan lama.
b. Ada jaminan.
c. Mudah dibawa. Mudah disimpan.
d. Jumlahnya tidak berlebihan tetapi tidak kekurangan (harus elastis).
e. Terdiri atas berbagai nilai.
f. Disukai umum.

3. Jenis- jenis uang.
a. Uang kartal yang terdiri dari uang kertas dan uang logam.
1) Uang kertas.

2) Uang logam.

b. Uang giral

Bentuk- bentuk uang giral: Cek, Giro, Perintah membayar, Telegrapgic transfer, Rekening Koran
4. Nilai uang:
a. Nilai nominal: nilai yang tertera pada mata uang. Perhatikan contoh di bawah ini!

b. Nilai intrinsik
c. Nilai internal
d. Nilai eksternal (nilai kurs mata uang asing)
5. Valuta asing (valas)
a. Kurs beli
b. Kurs jual
c. Kurs tengah

B. Lembaga Keuangan
1. Lembaga Keuangan Perbankan
a. Asas, Fungsi, dan Tujuan Perbankan Indonesia
Perbankan Indonesia memiliki asas atau dasar dalam melakukan usahanya, yaitu berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Fungsi perbankan Indonesia secara umum sebagai penghimpun dan penyalur dana dari masyarakat.
Perbankan Indonesia memiliki tujuan, yaitu menunjang pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
b. Jenis-Jenis Bank di Indonesia
1) Bank Sentral

Bank sentral merupakan lembaga negara yang bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak-pihak lain kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang.
Tugas Bank sentral yaitu :
a) Menjaga Kestabilan Nilai Rupiah
b) Menjaga Kelancaran Lalu Lintas Pembayaran
c) Sebagai Pemegang Kas Pemerintah
d) Mengatur dan Mengawasi Kegiatan Bank Umum
2) Bank Umum
Bank umum merupakan bank yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank umum disebut juga bank komersial karena tujuannya adalah mencari keuntungan.
a) Kegiatan Usaha Bank Umum
(1) menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan;
(2) memberikan kredit;
(3) menerbitkan surat pengakuan utang;
(4) membeli dan menjual surat berharga;
(5) menyediakan pembiayaan;
(6) menyediakan tempat untuk menyimpan benda-benda berharga bagi nasabah; serta
(7) melakukan kegiatan jual beli valuta asing.
b) Jenis-Jenis Bank Umum
(1) Bank Pemerintah
Bank pemerintah merupakan bank yang sebagian besar modalnya dimiliki oleh pemerintah. Contoh bank pemerintah yaitu Bank Pembangunan Daerah, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Mandiri.
(a) Bank Swasta Nasional
Bank swasta nasional merupakan bank yang sebagian besar atau seluruh modalnya dimiliki oleh individu atau badan hukum Indonesia. Contoh bank swasta nasional antara lain Bank NISP, Bank Lippo, dan Bank Internasional Indonesia (BII).
(a) Bank Koperasi
Modal bank koperasi adalah berasal dari badan usaha yang berbentuk koperasi. Contoh bank koperasi adalah Bank Umum Koperasi Indonesia (Bukopin).
(b) Bank Asing
Bank asing biasanya merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri, misalnya Bank HSBC dan Standard Chartered Bank.
(c) Bank Campuran
Modal bank campuran berasal dari kemitraan antara pihak swasta nasional dengan pihak asing.
3) Bank Perkreditan Rakyat
Bank perkreditan rakyat (BPR) merupakan bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Fungsi utama BPR adalah memberikan bantuan kredit baik berupa kredit investasi maupun kredit eksploitasi dalam skala kecil dengan jaminan kepada rakyat yang berada di daerah.
2. Lembaga-Lembaga Keuangan Lainnya
a. Lembaga Keuangan Bukan Bank
Lembaga keuangan bukan bank (LKBB) adalah semua badan yang dalam kegiatannya di bidang keuangan menghimpun dana dengan mengeluarkan kertas berharga dan menyalurkannya untuk membiayai investasi perusahaan.
b. Koperasi Kredit
Koperasi kredit merupakan suatu koperasi yang bergerak di bidang pinjam meminjam/kredit. Prinsip kerja koperasi adalah berdasarkan atas keanggotaan orang dan bukan atas dasar modal. Tidak perlu ada keharusan jaminan, tetapi kadang-kadang ada ketentuan tentang keharusan simpanan wajib di koperasi sebagai syarat jaminan untuk mendapatkan kredit. Prosedur permohonan kreditnya mudah, calon peminjam cukup datang ke kantor koperasi untuk mengajukan permohonan kredit.
c. Asuransi
Asuransi merupakan perusahaan yang menghimpun dana dengan menjanjikan sejumlah uang ganti rugi kepada perorangan atau perusahaan apabila terjadi suatu peristiwa seperti kecelakaan, kehilangan, kematian, kebakaran, dan sebagainya yang menimpa orang atau perusahaan yang mengikuti asuransi tersebut. Dana asuransi biasanya dihimpun dalam bentuk surat berharga yang aman.

d. Dana Pensiun
Setiap orang tidak hanya memikirkan kesejahteraan pada saat bekerja, tetapi juga memikirkan kesejahteraan pada masa pensiun atau masa tua. Oleh karena itu, dibutuhkan ”jaminan hari tua” atau program pensiun. Program pensiun memiliki tiga fungsi yaitu fungsi asuransi, tabungan, dan pensiun.
e. Perusahaan Sewa Guna
Perusahaan sewa guna lebih dikenal sebagai leasing merupakan sistem kontrak sewa yang dikombinasikan dengan pembelian secara angsuran. Perusahaan leasing sebagai penjual-sewa menyerahkan kepada perusahaan pembeli-sewa hak untuk menggunakan fasilitasfasilitas tertentu (barang modal dan peralatan berat) yang tetap menjadi milik perusahaan leasing, tetapi nantinya setelah jangka waktu tertentu dapat dibeli oleh si penyewa. Di Indonesia leasing mulai dikenal sejak tahun 1974.
f. g. Pasar Modal
Pasar modal atau bursa efek merupakan lembaga tempat jual beli surat-surat berharga jangka panjang. Dana dari pasar modal umumnya digunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek yang sifatnya juga jangka panjang, misalnya membangun pabrik baru. Surat-surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal misalnya saham (surat penyertaan modal), obligasi (surat utang berjangka panjang), dan berbagai jenis surat berharga lainnya. Di Indonesia terdapat dua pasar modal, yaitu Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Pada perkembangannya dua bursa ini digabung menjadi satu, yaitu Bursa Efek Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1. ,Wahjudi Djaja, d.k.k., Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX, Intan Pariwara, Klaten, 2007.
2. Nana S, d.k.k., Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX, Grafindo Media Pratama, Bandung, 2007.
3. Suyadi, d.k.k., Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX, Hamudha. Solo, 2007.
4. Ekonomi kelas IX, Klaten: Cempaka Putih, Klaten, 2007.
5. Depdiknas. Pengetahuan Sosial Kelas IX. Jakarta, 2004.
6. “Proteksi Ancam Pemulihan”, Kompas, Kamis 23 Juli 2009.
7. “Dorong Ekspor 122 Produk Baru”. Kompas, Senin 31 Agustus 2009.
8. Nachrowi, d.k.k., Ilmu Pengetahuan Sosial Ekonomi Kelas IX. Cempaka Putih. Klaten, 2006.
9. Kamus Ekonomi. 2007.
10. Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainya, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003.
11. Martono, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Ekonisia, Yogyakarta, 2002.
12. Nilai Tukar Rupiah, Kompas, Sabtu 18 Juli 2009

Bahan ajar Sejarah kelas VII

KEHIDUPAN MANUSIA PADA MASA PRAAKSARA DI INDONESIA
KELAS/SEMESTER : VII/I
Standar Kompetensi : Memahami lingkungan kehidupan manusia
Kompetensi Dasar : 1.2 mendeskripsikan kehidupan manusia pada masa
Pra Aksara
Rangkuman Materi
A. Kehidupan Praaksara/Prasejarah
Masyarakat Praaksara adalah zaman bumi baru terbentuk sampai adanya masyarakat
manusia. Namun, masyarakat manusia itu kebudayaannya belum mengenal tulisan.

Gambar 1.1
Gambar manusia praaksara/pra sejarah

B. Masa Sejarah
Masa Sejarah adalah Zaman dimana manusia sudah mengenal tulisan, Manusia tidak lagi hidu berpindah-pindah dan bahkan prasana yang dipakai sehari-hari sudah sangat instan artinya gampang didapat dimana-mana dan sangat praktis dibangdingkan pada Zama Pra-Aksara.

Gambar 2
Gambar Manusia sudah mengenal Tulisan (Sejarah)
C. PENGELOMPOKAN/PEMBABAKAN (PERIODESASI) MASA PRA-AKSARA
1. ARKEUM
Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun, pada saat itu kulit bumi masih panas, sehingga tidak ada kehidupan.
Gambar 3.
Gambar belum nampak tanda-tanda kehidupan

2. PALEOZOIKUM
Paleozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman primer atau zaman hidup tua berlangsung selama 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan, ampibi, reptil dan binatang yang tidak bertulang punggung.

Gambar 4. Contoh mahluk yang hidup pada Zaman Paleozoikum
3. MESOZOIKUM
Mesozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung selama kira-kira 140 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu. Pada zaman pertengahan ini, reptil berkembang dan menyebar ke seluruh dunia sehingga pada zaman ini sering pula disebut sebagai zaman reptil.

Gambar 5. (Dinosurus) yaitu mahluk yang hidup pada zaman Mesozoikum

4. NEOZOIKUM
Neozoikum atau zaman hidup pertengahan dibagi menjadi menjadi dua zaman, yaitu zaman Tersier dan zaman Kuartier. Zaman Tersier berlangsung sekitar 60 juta tahun. Zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui.
Sementara itu, Zaman Kuartier ditandai dengan munculnya manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Zaman ini kemudian dibagi lagi menjadi dua zaman, yaitu zaman Pleitosen dan Holosin. Zaman Pleitosen (Dilluvium) berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba.

Gambar 6. Gambar manusia purba.

D. PERIODISASI PRAAKSARA BERDASARKAN ALAT KEHIDUPAN
Berdasarkan arkeologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam dua zaman. Yaitu zaman batu dan zaman logam. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari:
1. Zaman Batu Zaman Batu adalah masa zaman prasejarah yang luas, ketika manusia menciptakan alat dari batu (karena tak memiliki teknologi yang lebih baik). Kayu, tulang, dan bahan lain juga digunakan, tetapi batu (terutama flint) dibentuk untuk dimanfaatkan sebagai alat memotong dan senjata. Istilah ini berasal sistem tiga zaman. Zaman Batu sekarang dipilah lagi menjadi masa Paleolitikum, Mesolitikum, dan Neolitikum, yang masing-masing dipilah-pilah lagi lebih jauh.
Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini dapat dibagi lagi atas:
 Zaman batu tua (Palaeolitikum) Zaman batu tua (palaeolitikum), Disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo Erectus.
Gambar 7. Contoh kapak genggam, kapak perimbas dan alat serpih

Ciri-ciri Zaman batu tua (Palaeolitikum)
- Pola kehidupan meliputi meramu tumbuh-tumbuhan, menangkap ikan & berburu binatang. Pola hidup seperti ini disebut food gathering.
- Peralatan masih terbuat dari batu atau tulang yang masih kasar.
- Jenis alat yg dihasilkan dan digunakan adalah kapak genggam, kapak perimbas dan alat serpih
- Bertempat tinggal secara nomaden (berpindah2)
- Belum mengenal arti seni
Peninggalan Zaman batu tua (palaeolitikum), ditemukan didaerah :
a. Pacitan (berupa kapak genggam / chopper) dan dsebut dengan Kebudayaan Pacitan. Ngandong (Blora) berupa alat2 yg terbuat dari tanduk & tulang. Alat tsb dikenal dengan Kebudayaan Ngandong.
 Zaman batu madya /tengah (mesolitikum)
Pada Zaman batu tengah (mesolitikum), alat-alat batu zaman ini sebagian sudah dihaluskan terutama bagian yang dipergunakan. Tembikar juga sudah dikenal. Periode ini juga disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat lanjut. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens (manusia sekarang), yaitu ras Austromelanosoide (mayoritas) dan Mongoloide (minoritas).

Ciri-ciri Zaman batu madya /tengah (mesolitikum) :
o Peralatan Masih terbuat dari batu atau tulang yang masih kasar.
o Jenis alat yg digunakan adalah peble / kapak Sumatra
o Bertempat tinggal secara nomaden (berpindah2)
o Mengenal seni yg berupa lukisan didinding goa yg berbentuk cap tangan & babi hutan
o Ditemukan Kjokken Moddinger bukit2 kerang hasil sampah dapur, banyak ditemukan dipesisir pantai timur Pulau Sumatera.

Tahun 1925 Kjokken Moddinger diteliti oleh Dr. P.V Van Stein Callenfels. Dan ditemukan juga gampak genggam (pebble), kapak pendek (hache courte). Karena ditemuka didaerah Sumatra maka dinamakan sumatralith.
- Ditemukan Abris Sous Roche º goa sbg tempat tinggal manusia purba.
- Didalam goa juga ditemukan alat2 berupa mata panah, flakes, betu penggilingan & kapak batu
- Sudah mengenal kepercayaan Peninggalan Flakes & Pebble ditemukan didaerah :
 Timor & Rote oleh Alfred Buhler. Flakes yg ditemukan sudah bertangkai.
 Bandung (merupakan penemuan flakes terbesar) meliputi Padalarang, Bandung Utara, Cicalengka, Banjaran & Soreang ditemukan oleh Von Koenigswald dan disebut Kebudayaan Danau Bandung
 Doa Leang Patta E di Toala (Sulawesi Selatan) oleh Van Stein Callenfels dan disebut Kebudayaan Toala.
 Zaman batu muda / baru (Neolitikum) Alat-alat batu buatan manusia Zaman batu baru (Neolithicum) sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Di samping tembikar tenun dan batik juga sudah dikenal. Periode ini disebut masa bercocok tanam. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens dengan ras Mongoloide (mayoritas) dan ras Austromelanosoide (minoritas).
Ciri-ciri Zaman batu muda / baru (Neolitikum) :
o Pola kehidupan food producing º mampu mengolah tanah dengan teknik sederhana mulai dari membersihkan hutan, membajak sawah & menamaminya.
o Peralatan sudah dihaluskan bahkan diberi tangkai .
o Jenis alat yg digunakan adalah kapak persegi & kapak lonjong
o Sudah bertempat tinggal menetap (sedenter)
o Pakaian terbuat dari kulit kayu & perhiasannya terbuat dari batu & manik-manik
o Telah memiliki kemampuan bercocok tanam
o Sudah mengenal kepercayaan Animisme & Dinamisme
o Mengenal perdagangan dengan system barter.
o Memiliki keterampilan membuat peralatan dr tanah liat (tembikar).
o Tembikar banyak ditemukan di daerah Yogyakarta, Pacitan, Melolo (Sumba)
 Zaman batu besar (megalitikum) disebut Zaman batu besar (megalitikum), karena kebudayaan umumnya terbuat dari batu dalam ukuran besar
Benda hasil kebudayaan Zaman batu besar adalah :
1. Menhir º tugu yg terbuat dari batu besar untuk memuja arwah nenek moyang.
Ditemukan di Sumatera, Sulawesi Tengah & Kalimantan
2. Dolmen Meja batu untuk meletakan sesaji yang akan dipersembahkan kepada leluhur. Ditemukan di Sumatera Barat & Sumbawa
3. Kubur batu Tempat menyimpan mayat / peti jenazah yg terdiri dari lempengan batu pipih. Ditemukan di Kuningan (Jawa Barat)
4. Waruga Kubur batu / peti jenazah yg berbentuk kubus.
Ditemukan di Sulawesi Tengah & Utara
5. Sarkofagus Kubur batu / peti jenazah yg berbentuk lesung dan terbuat dari batu utuh (tunggal) Ditemukan di BALI & Jawa Timur
6. Arca Patung yg mengambarkan manusia atau binatang
Arca Zaman megalitikum ditemukan di Lamung, Jawa Tengah & Jawa Timur
7. Punden Berundak Batuan yg disusun berundak-undak merupakan bangunan suci tempat memuja roh nenek moyang
Ditemukan di Lebak Sibedug (Banten)
2. Zaman Logam Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu setangkup dengan menggunakan 2 cetakan yg ditangkupkan yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin lengkap dengan hiasannya yang disebut a cire perdue. Kelebihan dari teknik a cire perdue adalah dapat digunakan berkali kali. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam ini dibagi atas:
 Zaman tembaga Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) tidak dikenal istilah zaman tembaga.
 Zaman perunggu Pada zaman ini orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.
Peralatan pada zaman perunggu :
 Nekara = genderang besar dari perunggu. Berbentuk seperti dandang tertelungkuo & biasanya digunakan u acara penyembahan terhadap roh nenek moyak.
Ditemukan didaerah Sumatera, Jawa, Bali, Sangeang, Leti, Selayar & Kepulauan Kei
 Moko = genderang kecil dari perunggu. Nekara yg berukuran kecil. Biasanya digunakan sebagai mas kawin.
Ditemuka didaerah Alor
 Kapak corong / kapak sepatu. Pada bagian atasnya berbentuk corong dan pada bagian corongnya dimasukan tangkai dari kayu yg menyiku.
Ditemukan didaerah , Sulawesi Selatan, Pulau Selayar & Danau Sentani (Papua)
 Arca perunggu
 Perhiasan perunggu. Merupakan bagian dari kebudayaan Dongson (Vietnam)
 Bejana perunggu
3. Zaman besi Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500°C. Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah.
Antara zaman neolithicum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalithicum, yaitu kebudayaan yang mengunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalithicum justru pada zaman logam.
KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA PADA ZAMAN PRA AKSARA (PRA SEJARAH)

Zaman Prasejarah zaman dimana manusia belum mengenal tulisan, disebut Nirleka artinya zaman tidak ada tulisan. Zaman Prasejarah dimulai sejak adanya manusia sampai manusia mengenal tulisan. Pengetahuan tentang kehidupan pada zaman pra aksara diketahui dari :
1. Fosil Sisa mahkluk hidup yg telah membatu (menjadi batu).
Fosil yg memberi petunjuk tentang kehidupan pada zaman purba º fosil Pandu (lite fosil)
2. Artefak Alat yg digunakan manusia purba untuk memnuhi kebutuhan hidupnya. Peralatan terbuat dari batu, tulang & logam.
Untuk mengetahui peninggalan pd zaman purba ada 2 cara yaitu : Secara
1. Stratigrafi º Mempelajari peningglan purba berdasarkan letak didalam lapisan tanah (sesuai usia lapisan tanah) benda yg ditemukan.
2. Tipologi º Mempelajari peningglan purba dgn mengelompokkan benda2 purbakala kedalam kelompok yg sejenis.

PEMBAGIAN ZAMAN BERDASARKAN CORAK HIDUP
1. Masa Meramu dan Berburu Maksudnya selain berburu mereka juga mencari bahan-bahan makanan dihutan seperti tals, ubi, buah & sayur Alat yg dipergunakan terbuat dari kayu, batu dan tulang yaitu :
 Kapak perimbas
 Alat serpih
 Kapak genggam
 Mata tombak
 Tangkai tombak
Manusia purba sudah membuat api dengan cara membentur2kan batu.
Mereka hidup berpindah-pindah º nomaden
2. Masa Bercocok Tanam Tata cara hidup pada masa ini adalah :
 Cara hidup meramu & berburu berubah menjadi bercocok tanam di ladang/sawah
 Mereka hidup berpindah-pindah berubah menjadi menetapº sedenter digoa-goa
 Peralatan berubah menjadi batu halus, tanah liat & logam
 Kepercayaan berkembang
 Mengenal seni (lukisan didinding goa)
 Hidup berkelompok yg berkembang menjadi desa dan ada pemimpinnya
3. Masa Perundagian
Undagi º sekelompok orang yg memiliki keahlian membuat suatu barang (cetak, pandai besi samapi konstruksi) Tata cara hidup pada masa ini adalah :
 Bercocok tanam
 Barang produksi antara lain cetakan dari logam, perunggu, besi & gerabah
 Mengembangkan ekonomi produksi
NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA
Asal-usul Ras Bangsa Indonesia Di dunia ini ada beberap ras yaitu :
1. Ras Kaukasoid º Nordik (Eropa Utaran / Jerman)
o Alpin (sebagian besar bangsa Eropa)
o Mediterania (Timur Tengah & Arab)
o Indic (India)
2. Ras Mongoloid º Asiatik Mongoloid (Cina, Jepang, Korea)
o Malayan Mongoloid (Melayu)
o American Mongoloid (suku India)
3. Ras Negroid º African Negroid ( Negro Afrika)
o Negroid (Negro)
4. Ras Khusus º Australoid (Penduduk asli Austalia)
o Polynesia (bangsa Pasifik)
o Melanesia (Papua / Pasifik)
o Micronesia (Pasifik)
o Ainu (Penduduk asli Jepang)
o Dravida (Penduduk asli India)
o Bushman (Afrika Selatan)
 Animisme : kepercayaan terhadap roh-roh yang mendiami suatu tempat atau suatu benda
 Dinamisme = kepercayaan bahwa segala sesuatu memilik tenaga atau kekuatan yg dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan manusia dalam mempertahankan hidup

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.